Jumat, 17 Juli 2020

Menjilat Ludah Sendiri (Challenge Whatsapp)


"Happy birthday, Iza," Banda berlutut di depanku, menyodorkan sebuket bunga putih kecil yang batang hijaunya masih segar, entah sejak kapan ia sembunyikan. Padahal sejak tadi kami makan di sebuah kedai kecil di tengah pertokoan ini.

Alih-alih menerimanya langsung, aku justru malah menepuk pundaknya. "Astaga, Nda. Jangan di sini, napa? Malu!" Aku membujuk Banda supaya kembali ke tempat duduknya, sembari melirik ke sekeliling yang justru malah semakin memperhatikan kami. "Iya, iya, ini gue terima. Udah, cepet duduk."

Aku kini menggenggam bunga yang Banda berikan, sementara pria di hadapanku itu senyum-senyum sendirian. Aku bisa melihat beberapa pasang mata menertawai kami, termasuk ibu pemilik kedai. Tanpa sadar aku menutupi wajahku dengan bunga, malu.

"Happy birthday, Za," Ucap Banda lagi, dengan senyum yang tak kunjung hilang. Entah, mungkin dia pikir dia cukup romantis dengan memberikanku bunga di hari ulangtahunku. Padahal aku tak akan luluh dengan hal-hal semacam ini.

Banda mulai mengeluarkan jurus andalannya: berpuisi. Dan selama hidupku, aku tidak pernah paham arti dari puisi-puisi, termasuk yang Banda buat. Apakah itu tentangku, memujiku, memuji dirinya sendiri? Jujur, aku tidak terlalu peduli. Suaranya mengawang di udara, tidak masuk satupun ke telinga. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi saja. Aku ingin pulang dan protes pada orangtuaku karena berniat menjodohkan aku dengan laki-laki bucin sepertinya.

Kualihkan pandanganku ke luar jendela. Sesekali tersenyum menanggapi Banda, tidak ingin ia sakit hati juga karena aku mengabaikannya. Tapi, entah apakah ini takdir, hadiah dari Tuhan, atau cuma kebetulan, mataku justru menangkap sesosok pria di luar sana. Mungkin memang ragaku saja yang masih bertahan, hati dan pikiranku tidak.

Kala. Aku melihatnya di luar, mengenakan sebuah jaket denim, sedang menawar pedagang buah.

Reflekku sangat tidak tahu diri, memang. Maaf, Banda. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu dengan tiba-tiba berdiri, membuat air di dalam gelas sedikit melompat ke luar, dan puisinya berhenti di tengah-tengah. Tapi ada yang harus aku lakukan. Sekarang, atau tidak sama sekali.

Akhirnya aku melangkah keluar, meninggalkan kedai dengan Banda di dalamnya, memandangiku bingung. Buket bunga itu masih aku genggam. Sayangnya, terlalu kencang sampai mungkin sedikit rusak. Aku tidak peduli apa yang kulewati saat aku menyeberangi jalan. Mataku tertuju pada sosok Kala yang masih memunggungiku, tidak menyadari kehadiranku.

Setibanya tepat di belakang Kala, kugunakan buket bunga tersebut sebagai senjata untuk memukul tengkuknya. Seketika bunga putih yang tadi memenuhi tangkainya berjatuhan ke punggung Kala, ke jalanan, terinjeak. Rusak.

Aku mengendus kesal, menunggu reaksi pria itu. Sedangkan Kala yang terkejut hanya mengusap tengkuknya sembari menoleh, lalu semakin terkejut karena melihat sosokku yang kuyakin tak ada dalam ekspektasinya bertemu denganku di tempat seperti ini.

"Iza? Lo... apa-apaan, sih?" Pria itu menautkan keningnya heran. Tapi masih sempat-sempatnya membersihkan serpihan bunga dan batang dari pundaknya yang tegap.

Aku tak habis pikir. Kala bahkan tak antusias melirikku. Seolah tidak ada yang terjadi selama tiga bulan ini. Seolah segalanya sedang normal-normal saja. Aku semakin marah, tapi mataku juga mulai basah membayangkan selama ini Kala baik-baik saja tanpa aku. Sementara aku hancur, dan susah payah membenahinya kembali.

"Elo yang apa-apaan, Kal. Lo kemana aja? Lo dimana? Kenapa lo se-watados ini muncul di hadapan gue? Dan kenapa cuma gue yang ngerasa mesti banget mukul elo karena kesel? Apa-apaan sih, lo, Kal?"

Beberapa menit yang lalu aku memohon pada Banda untuk tidak menarik perhatian orang lain. Sekarang, aku seperti menjilat ludahku sendiri. Sudah tidak peduli seberapa banyak yang memperhatikan kami.

Kala masih memasang ekspresinya yang kesal karena aku tiba-tiba saja mempermalukannya di depan umum. Tapi dia tak menjawab satupun pertanyaanku, masih tampak terlalu santai. Heran aku melihatnya.

"Lo nggak mau ngomong apa-apa sama gue, Kal?" Entah bagaimana akhirnya aku melemah. Terlalu marah sampai aku lelah bentak-bentak.

"Nggak." Kala melepas jaketnya, mengibaskannya. Ia menatap langit dengan matanya yang kecil. Sudah begitu silau, pula. Ia menengok ke kanan, ke kiri. Tidak. Dia tidak menatap mataku sedikitpun.

Aku juga sudah tidak tau harus berkata apa.

"Gue...," Kala akhirnya angkat bicara. "...nggak bisa ketemu lo lagi. Kita udahan, Za. Ga usah cari gue lagi. Lo juga..." Kala melirik kedai tempat Banda berada. "...ada yang nungguin kan?"

"Nggak gitu, Kal. Lo harus jelasin ke gue kanapa kita-"

"Iza," Akhirnya, Kala berdiri menghadapku, menatapku dalam-dalam seolah ia ingin aku mengerti ucapannya. "Gue pamit."

Aku tau. Aku sebenarnya tau, sangat tau, kalau pada ujungnya aku dan Kala tidak akan kembali seperti dulu. Aku pikir aku sudah siap mendengar kalimat itu terucap dari mulutnya, masuk lewat telinga dan menyentuh sesuatu di dalam hati yang sudah kujaga setengah mati. Aku kira aku akan baik-baik saja saat semua itu terjadi.

Namun, bahkan setelah sosok Kala sudah tidak ada di hadapanku lagi, berganti dengan sosok Banda yang mengkhawatirkanku dan mengajakku pulang, aku masih bergeming. Aku masih bergeming. Tau-tau aku sudah di rumah. Menangis pilu di pojok kasur seperti orang paling bucin di dunia dan yang paling patah hatinya.

Aku seperti menjilat ludahku sendiri. Lagi.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar