Aku pikir, kenapa aku butuh seseorang padahal ada cukup banyak hal yang bisa kulakukan sendiri. Tanpa perlu repot membuat janji, tanpa perlu repot dikomentari, tanpa perlu repot menyimpan harap tentang reaksi-reaksi yang nyatanya hanya terbentuk di benak ini saja. Jawabannya, tentu karena mungkin akan jauh lebih menyenangkan ketika aku bisa mendapatkan dukungan. Dan hingga detik aku menulis tulisan ini di tengah perjalanan menggunakan kereta, aku belum pernah menemukan "dia" yang bisa benar-benar mendukungku tentang apapun yang kulakukan.
Aku ingin seseorang mendukungku meski banyak sekali usaha yang kulakukan demi membuat video berdurasi 3 menit. Aku juga ingin seseorang tak berkomentar "kamu gabut ya" atas pekerjaan-pekerjaanku yang lebih banyak memakan waktu, biaya dan tenaga, dibanding menghasilkan uang. Aku pikir akan ada orang di luar sana, yang membuatku semakin mahir berbahasa Jepang, mahir membuat sketsa-sketsa tanpa menghakimi, atau membuat tulisan-tulisan dalam buku tulisku terasa lebih berharga, atau membuatku mau membuat postingan-postingan bermanfaat di media sosialku yang semakin lama semakin berdebu.
Tapi ternyata lagi-lagi itu cuma ekspektasi. Ekspektasi tentang bagaimana keinginanku dalam sebuah hubungan, yang nyatanya tidak akan pernah ada yang benar-benar sesuai. Aku tetap harus berusaha sendiri ketika mengumpulkan footage, mengeditnya, dan merasa puas sendiri ketika hasilnya bagus. Karena ya hanya aku saja yang tau bagaimana rasanya mengerjakan itu. Atau ketika aku dihakimi tentang kebiasaanku menggambar, aku sendiri yang harus meguatkan diri untuk tetap merasa berharga dengan "bakat" ini. Atau menuliskan dan merekam apapun yang kupikir harus dituang, tak hanya terpendam di otak, yang kemudian kutulis dalam blog yang tak seorangpun membacanya, atau podcast yang tak seorangpun mendengarnya, kecuali ya aku sendiri.
Jika temanku bilang mencari pasangan itu seperti mencari diriku versi laki-laki, aku sangat setuju. Karena itu persis seperti ekspektasiku. Tapi setelah aku tau tidak semudah itu menemukannya, jadi untuk saat ini mungkin aku akan membuat pertemuan kami terjadi secara natural, tak kan kupaksakan lagi. Aku ingin bentuk diriku yang mulai lembek lagi gara-gara patah hati. Aku ingin membahagiakan diri lagi dengan melakukan apapun sendiri, seperti sekarang aku pergi ke ibu kota dengan kereta, mengingat betapa aku menyukai jalan-jalan menggunakan alat transportasi ini. Tanpa harus mendengar kata "gabut amat lu".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar