Jumat, 17 Juli 2020

Dia yang Tak Suka Makanan Manis (Perkenalan Tokoh "Yang Terlewat" by Fairever)

Baru sedikit aku menyesap teh pagiku hari itu, ayah memanggil dari luar. Aku memutuskan untuk sekalian saja membawa seteko teh dengan tiga cangkir ke luar, siapa tau ada yang mau. Dan, yah, tentu saja ayah lebih suka kopi dibanding minuman apapun. Walhasil, teh yang kubawa tidak lagi. Semuanya lebih suka kopi.

Ayah duduk di sampingku, di atas amben yang hari ini tampak bersih. Mungkin ini karena mereka membuka bengkel lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa sepulang dari Garut, baik ayah, Pak Rizal, ataupun Keanu, tampak lebih bersemangat bekerja di banding sebelumnya. Aku tidak pernah tau apa yang terjadi di sana karena mereka bilang itu hanya undangan pernikahan biasa dari anak client langganan ayah.

Tapi aku tidak percaya.

Donat gula yang kubawa habis dalam beberapa menit saja. Aku menggoreng sekitar sepuluh donat, dan mungkin enamnya habis oleh aku dan ayah, sementara Keanu hanya makan satu. Dia tidak suka makanan manis.

Omong-omong, biar kuperkenalkan satu-satu dari mereka, sebelum mereka kembali sibuk dan kehilangan ketampanan mereka pagi ini. Aku juga harus cepat-cepat kembali ke meja laptop dan menyelesaikan sentuhan terakhir dari draft seminar sebelum kukirim pada dosen siang nanti.

Jadi..., yah, oke. Pria yang berbadan paling besar itu ayahku. Dia seorang single parent yang membesarkanku sejak... dua puluh tahun yang lalu? Ya, hampir seumur hidupku. Aku tak begitu mengingat kapan terakhir kali aku melihat ibu.

Ayah membuka bengkel ini saat aku kelas enam SD, saat ia memutuskan untuk bekerja sambil mengawasiku kapanpun ia bisa. Jadilah bengkel mobil dan motor, termasuk toko onderdilnya, bersebelahan dengan rumah kami. Dengan pekarangan yang kami tata sedemikian rupa sehingga tetap enak dipandang meski kadang masih bisa kucium bau-bau oli mesin.

Sepanjang hidupku di kota ini, kami tak pernah pindah kemana-mana. Ayah selalu memasukkanku ke sekolah-sekolah yang paling dekat dengan rumah, bahkan hingga aku masuk universitas. Aku mungkin tampak sangat dimanja, tapi hal itu juga karena ayah tak pernah berhenti mengkhawatirkanku sepanjang hidupnya. Aku sangat paham itu dan aku tidak pernah menolak untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah dibanding di tempat lain. Untungnya, aku sangat suka di rumah.

Karyawan pertama ayah, pria yang senang sekali bernyanyi saat kerja, Pak Rizal. Tempat tinggalnya cukup jauh dari sini, tapi ia sangat bersahabat dengan ayah dan rela menghabiskan waktu kerjanya di sini selama tujuh hari dalam seminggu. Pak Rizal punya dua anak kembar yang sering dibawanya kemari saat istrinya berkunjung. Keluarga kecil itu terlihat sangat harmonis dan bahagia dengan anak-anak kecil yang tampak sangat akbrab, Jakie dan Jacob.

Tapi, kalau dipikir-pikir, ini kali pertama dalam cerita, aku menceritakan soal keluarga Pak Rizal.

Ayah pernah berkata, jiwa bengkel ini ada di tangan Pak Rizal. Ketika pria itu tidak bisa datang ke bengkel karena alasan tertentu, bengkel ini seperti sedang tertidur. Setengah mati. Setelah hampir delapan tahun bekerja dengan ayah, dan melihatnya setiap hari, aku sepertinya sedikit mengerti kenapa ayah menganggap Pak Rizal seberharga itu.

Dan, yang terakhir, seorang laki-laki yang usinya hanya tiga tahun di atasku, tapi skill bengkel-membengkelnya seringkali dipuji ayah diam-diam saat makan malam, Keanu. Laki-laki paling pendiam yang pernah kutemui (by the way, aku tidak punya banyak teman, terutama teman laki-laki). Paling dingin saat disapa. Paling fokus kalau sedang bekerja, tapi tak pernah protes dengan apapun yang Pak Rizal keluarkan dari mulutnya setiap hari.

Keanu benar-benar orang yang menghormarti ayah. Dia menghormati ayah, seperti aku menghormati dosen paling senior di kampus. Dia akan mendengarkan apapun yang ayah jelaskan soal mesin, soal caranya melayani pelanggan, dan sangat cepat belajar. Laki-laki itu tidak pernah datang terlambat, tidak pula pulang terlambat. Keanu bilang, ia harus menghormati waktunya, saat bekerja, ataupun saat ia pulang.

Aku tidak pernah tau ia tinggal dimana. Tapi dari cerita ayah, ia tinggal bersama ibunya saja. Dan dari segala cerita yang kudengar dari ayah tentang Keanu, aku tau ayah sama bangganya pada pria itu. Dan sedikit banyak hal itu mempengaruhiku.

Lihat, sekarang saja Keanu lebih serius membetulkan sebuah mobil yang sudah berada di bengkel sejak kemarin, ketimbang ngopi pagi bersama ayah dan Pak Rizal sembari ngobrol. Aku belum bicara lagi dengannya sejak...

...sejak...

...sejak aku bilang aku menyukainya.

"Nu, duduk dulu. Masih kepagian buat mulai kerja. Embun aja masih ada." Ujar Pak Rizal, saat ia menggigit donat ketiganya.

Laki-laki yang diajak bicara tak langsung merespon. Ia sedang mencoba menyalakan mesin mobil untuk kesekian kalinya hari ini, dan begitu mesin menyala, ekspresi lega tampak di wajahnya (meski tak banyak yang berubah dari otot-otot wajahnya yang kaku itu).

"Weh, cepet juga dia," Komentar Pak Rizal lagi, yang ekspresinya sama seperti ayah: kagum.

Aku tidak mengerti soal mesin motor atau mobil. Tapi dari ekspresi kedua pria di depanku, Keanu mungkin memang sehebat itu.

"Orangnya ke sini jam sembilan," Tukas Keanu, begitu ia mendekati amben dan meneguk kopinya yang tinggal setengah.

Pak Rizal manggut-manggut. "Pantesan kamu buru-buru nyelesainnya,"

"Oh iya," Ayah yang sedari tadi tak mengeluarkan suara mulai terdengar. "Kalau nanti belum ada kerjaan, tolong benerin motornya si Fely, kemarin dia nabrak mobil orang. Emang gak ada otaknya,"

Aku yang sedang meneguk teh mendadak tersedak. "Ayah!" Nadaku meninggi, tak terima dikatai tak punya otak.

"Motornya yang gak punya otak, kamu mah punya," Ayah melanjutkan, entah kenapa ekspresinya yang datang tidak terlihat seperti bercanda, meski aku tau ia bercanda. Ayah kan begitu, sebelas dua belas dengan Keanu.

"Cuma nggak dipake aja," Pak Rizal melanjutkan tanpa instruksi, membuat ayah terkekeh pendek.

"Pak Rizal!"

"Ya lagian, masa ada mobil parkir kamu tabrak? Kan mobilnya bingung dicium tiba-tiba," Pak Rizal memulai lagi ocehannya. Memang ia tak pernah kehilangan kata-kata untuk meledekku.

Tapi, ini memang kecelakaanku yang ketiga kalinya minggu ini. Ayah sampai tidak mau tau lagi dan melarangku mengendarai motor sampai kegilaanku berakhir. Ini pasti gara-gara otakku dipenuhi bahan skripsian. Ukh... Aku juga ingin ini segera berakhir.

Walhasil, aku terima-terima saja diceramahi ayah atau Pak Rizal soal caraku mengendarai motor yang aneh. Tapi mungkin, itu bisa jadi alasanku untuk minta Keanu antar-jemput aku ke kampus?

Ha..ha..haha..hahaha..ha.

Oke. Sebaiknya aku segera masuk dan menyelesaikan draft-ku sebelum aku modusin Keanu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar