Pablo menelan ludah, terkejut melihat Gracia yang tiba-tiba muncul dan membanting tasnya di bangku tempat mereka duduk. "Kenapa, sih?"
Gracia mendengus, tampak begitu kesal. Ia bahkan melipat kedua lengannya di depan dada, duduk bersandar demi meredam emosi. Ada yang bilang, "jika sedang marah maka duduklah". Maka ia melakukannya demi hal itu. Tapi karena Pablo tampaknya sangat ingin tau, Gracia akhirnya mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi hingga ia begitu kesal.
Detik setelah Gracia menceritakan inti ceritanya, Pablo tergelak. "Ya elah, Cia, diledek rambut kriting aja ngambek. Perasaan, Gracia yang gue kenal, draft tugas akhirnya dicaci maki sama dosen juga nggak ada sedih-sedihnya,"
Gracia mendengus lagi. "Masalahnya mereka itu ngeledek elu juga, Pab. Bingung gua. Fisik kaya gimana sih yang nggak mereka ledek? Ada aja salahnya!"
"Ya enggak akan beres-beres, Cia, ngomongin fisik orang mah. Dari dulu juga kita tau, kan?" Pablo mencondongkan punggungnya ke depan, supaya ia bisa menatap kedua mata Gracia yang masih tampak merah karena marah.
Gracia butuh waktu untuk meredakan emosinya. Selain duduk, keberadaan sahabatnya itu ternyata berhasil membuatnya jauh lebih tenang. Pria itu memang terbaik. Ledekan apapun tak mempan padanya. Sudah sejak kecil Gracia belajar banyak dari pria kocak di sampingnya itu. Dia tidak habis pikir, masih ada orang yang bisa-bisanya melihat Pablo dari fisiknya saja. Kalau mereka sampai tahu isi hati dan pikirannya, mereka pasti auto jadi follower-nya!
"Lagian nih, Cia," Pablo menarik kembali punggungnya, bersandar. "Yang mereka ledek dari gue nggak cuma rambut gue, kali. Gue juga item. Dan mereka nggak tau aja kalau gue tidur jelek banget, kaya gini nih," Pablo mempraktekan caranya tidur dengan sangat norak, dan itu membuat Gracia tertawa. " So, what? Gue juga nggak butuh pujian mereka dan berlagak keren di depan mereka." Ia membenarkan posisi duduknya lagi. Kali ini Gracia sudah duduk tegak dan menoleh padanya, menaruh seluruh perhatian pada pria di sebelahnya. "Kalau ini seleksi alam, cuma orang-orang kaya elo, Cia, yang pantes jadi temen gue. Dan gue bersyukur, karena dengan begini, pertemanan gue nggak toxic" Pablo menatap Gracia dalam-dalam, lurus ke pupil matanya yang berwarna coklat.
Gracia bergeming. Pablo benar. Semua yang ia katakan benar. Ia juga bersyukur memiliki teman sepertinya.
"Tapi, lo bukan toxic buat gue kan, Cia?" Pablo masih saja menggodanya.
"Ih! Apaan sih lu, Pab. Ya bukan lah!"
Ekspresi jenaka Pablo membuat Gracia tertawa. Sath menit bersama Pablo membuatnya lupa rasa kesal yang ia alami sebelumnya. Kalau bisa, ia ingin terus seperti ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar