Jumat, 17 Juli 2020
Menjilat Ludah Sendiri (Challenge Whatsapp)
Bestie
Right Angle (Challenge Whatsapp)
Dimas bersiul girang begitu mendapatkan telepon dari kurir bahwa paketnya sudah sampai di rumah. Ia tidak sabar untuk segera pulang, dan meng-unboxing gundam yang sudah lama ia tunggu-tunggu kedatangannya. Saat itu Dimas masih merasa baik-baik saja sampai langkahnya terpaksa berhenti karena mendengar suara mengamuk seseorang di salah satu tangga koridor yang sepi.
Laki-laki itu penasaran. Pasalnya, bel pulang sekolah sudah berlalu sekitar satu jam yang lalu, dan tidak banyak yang berada di lantai tiga jika sudah mendekati petang. Akhirnya, sembari berdoa supaya tidak ketahuan, Dimas mengintip dari celah tembok sisi tangga.
Di luar dugaan, ternyata sosok tersebut adalah perempuan dari kelasnya. Sialnya, Viatna (nama gadis itu) adalah satu dari cewek-cewek yang paling dijauhinya. Bahkan di seluruh sekolah.
Laki-laki itu mendengus. Menyesali diri kenapa ia harus terjebak di tempat ini, dan kenapa kebetulan sekali perempuan itu ngamuk-ngamuk di tangga koridor yang merupakan jalan satu-satunya bagi Dimas untuk pulang.
Tak bisa berbuat banyak, Dimas mencoba untuk mencari tau, adakah kesempatannya untuk turun. Semakin diperhatikan, Dimas semakin penasaran.
Viatna ternyata tidak hanya merasa kesal dan marah. Setelah menggerutu tidak jelas, menyebut nama seseorang yang tak Dimas kenal, menghentakkan kaki di lantai, tanpa mampu melakukan apa-apa lagi kemudian perempuan itu menangis. Menangis begitu saja. Memeluk lutut, bersandar pada dinding yang dingin.
Dari tempat Dimas berada, ia masih memperhatikan. Perempuan itu tidak seperti yang biasa dilihatnya di kelas (yang penuh percaya diri, bahkan terlalu penuh sampai terkadang merendahkan orang lain). Perempuan itu biasa berkelompok, meski Dimas juga heran kenapa kali ini ia sendirian. Viatna dan teman-temannya bahkan bisa tertawa begitu keras di koridor, menertawakan apapun yang mereka anggap lucu. Apapun yang Dimas lihat soal perempuan itu kalau tidak tengil, ya egois.
Tapi kali ini, Viatna benar-benar bukan dirinya. Perempuan itu memang suka marah-marah di kelas, kalau anak laki-laki yang sama tengilnya mendadak membuatnya naik darah. Tapi kebanyakan siswa perempuan lain biasanya mendukungnya, terutama kalau para cowok itu sudah keterlaluan. Meski kadang marahnya Viatna lebay, sih.
Sesaat Dimas berpikir, Viatna juga manusia. Dia juga punya sesuatu yang mungkin harus ia simpan sendiri saja. Tidak dari teman-teman dekatnya, apalagi orang asing seperti dirinya. Jadi, alih-alih memaksakan diri turun dan mesti mengganggu self pep talk-nya, Dimas memutuskan untuk bersabar. Mungkin sebentar lagi perempuan itu pergi.
Tak berapa lama, Dimas sadar Viatna tak lagi mengeluarkan suara. Begitu diintip, perempuan itu masih di sana, memeluk lutut dengan begitu menyedihkan. Sesaat Dimas berfikir, mungkin Viatna ketiduran, dan ini kesempatan baginya untuk melewatinya tanpa mengganggunya. Dia janji tidak akan pernah memberitahu siapapun, dan akan menganggap ia tak pernah melihat apa-apa.
Untuk itu, Dimas memutuskan untuk melangkah menuruni tangga. Dimas hampir berhasil begitu jarak dirinya dengan Viatna hanya berbeda satu meter. Ia berusaha sekuat tenaga tak menghasilkan suara apa-apa. Tapi kemudian, di luar kendalinya, ponselnya berdering.
Seketika Viatna mendongak. Ekspresinya terkejut menemukan sosok orang lain di sana, entah sejak kapan.
Dimas juga sama terkejutnya. Ia bahkan menjatuhkan ponsel saking terkejutnya. Laki-laki itu bukan orang yang pandai bernegosiasi. Jadi, ketika Viatna melemparinya dengan tatapan tajam siap membunuh, Dimas hanya berharap ia bisa berlari pergi.
Di luar dugaan, Viatna justru mengambilkan ponsel Dimas dan mengembalikannya. Tanpa mengatakan apa-apa, Viatna memutar tubuhnya. Ia tampaknya merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Ia juga menghapus air mata dan membenahi rambutnya. Merasa sudah lebih baik, ia kembali menghadapkan tubuhnya pada Dimas.
Laki-laki itu terdiam, berjuta kemungkinan yang akan dilakukan Viatna terbayang di dalam otaknya. Tapi ternyata, yang kemudian Viatna lakukan adalah tersenyum, memamerkam giginya yang putih sembari terkekeh, "Gue ketiduran lagi di sini," ungkapnya. Lalu dengan imejnya yang seperti sebelum-sebelumnya, Viatna berlalu meninggalkan Dimas yang bergeming. Antara bingung dan penasaran. Ditambah sedikit rasa kagum yang entah muncul dari mana. Tapi setidaknya, kini, pandangannya terhadap perempuan yang paling ia jauhi di sekolah, berubah.
***
Sempurna (Challenge Whatsapp)
Anggar menghentikan langkahnya begitu ia sadar telah menginjak tanah basah yang membuat sepatunya kotor. Sembari menahan diri untuk tidak mengeluh, ia mendongak, memastikan Thalia, yang sejak awal tak memberitahu sejujurnya kemana mereka akan pergi, masih berada di dekatnya. Meski sudah berjalan berkilo-kilometer menuju atas bukit yang entah apa maksudnya, gadis itu tetap saja terlihat enerjik, seolah tak kehilangan tenaga sedikitpun.
"Ayo, Gar. Dikit lagi. Tuh! Udah keliatan puncaknya!" Gadis itu melompat, girang melihat tujuannya sudah di depan mata.
Anggar hanya membalas dengan senyuman. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul tujuh lebih. Mungkin ia memang harus membatalkan janji dengan temannya demi memenuhi keinginan Thalia kali ini.
Dengan harapan ia bisa segera pulang jika keinginan Thalia sudah terpenuhi, Anggar mengumpulkan kembali tenaganya dan mulai melangkah naik malawan gravitasi.
Tak berapa lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat yang Thalia sebut puncak: sebuah padang rumput luas, dengan pemandangan langit malam yang indah. Seketika lelah yang Anggar rasakan barusan hilang begitu saja.
"Perfect," Thalia tersenyum puas di samping Anggar. Lengannya melilit perlahan pada lengan Anggar, membuat laki-laki itu menoleh dan melihat jutaan bintang lebih banyak di mata sang gadis.
Thalia menoleh, senyumnya seolah permanen. "Yuk," katanya, menarik tangan Anggar menuju tempat terbaik untuk melihat langit.
Setelah menemukan tempat duduk dengan view terbaik, Thalia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya: sebuah rice box. "Nih,"
Anggar menerima sambil tertegun. "Ini apa?"
Thalia terkekeh. "Kembang tujuh rupa," candanya, membuat senyum Anggar ikut terbentuk. "Nasilah, Gar. Laper kan?"
"Kamu jauh-jauh ke sini buat ngajakin aku makan rice box?" Tanya Anggar tak percaya.
Gadis itu lagi-lagi terkekeh, meski tangannya tak bergenti bergerak; menyiapkan peralatan makan untuk dirinya dan Anggar. "Yang kita bayar di sini itu view-nya, Gar. Kamu nggak merasa semuanya impas waktu liat langit seindah ini?"
Anggar menoleh pada langit sesaat, kemudian kembali menatap Thalia. "Makanya tadi kamu bilang perfect?"
Kali ini Thalia tak terkekeh. Ia hanya tersenyum. Memandang kedua sepatunya yang kotor. "Perfect itu kalau semuanya lengkap."
"Lengkap?"
Thalia mengangguk. "Ada langit cerah, ada makanan," Thalia berhenti sebentar, menoleh pada Anggar. "...dan ada kamu."
Anggar yang sedari tadi tak berhenti menatap Thalia, terpaksa mengalihkan pandangannya. Meski sejujurnya ia tak ingin melewatkan ini: momen dimana ia bisa melihat ekspresi Thalia yang seindah itu. Thalia benar, ini sempurna.
"Oops." Thalia bergeming memandang kotak nasinya sendiri.
"Kenapa?"
"Aku lupa bilang kalau aku nggak mau pake bombay,"
Kini giliran Anggar yang terkekeh. "Ya udah sini, oper ke aku,"
"Tukeran sama ayamnya mau nggak?"
"Thal,"
Thalia tak bisa menahan tawa, ia terlalu bahagia untuk memendam segalanya di dalam hati. Ini hari terbaik, baginya atau pun Anggar. Ya, ini sempurna.
***