Jumat, 17 Juli 2020

Menjilat Ludah Sendiri (Challenge Whatsapp)


"Happy birthday, Iza," Banda berlutut di depanku, menyodorkan sebuket bunga putih kecil yang batang hijaunya masih segar, entah sejak kapan ia sembunyikan. Padahal sejak tadi kami makan di sebuah kedai kecil di tengah pertokoan ini.

Alih-alih menerimanya langsung, aku justru malah menepuk pundaknya. "Astaga, Nda. Jangan di sini, napa? Malu!" Aku membujuk Banda supaya kembali ke tempat duduknya, sembari melirik ke sekeliling yang justru malah semakin memperhatikan kami. "Iya, iya, ini gue terima. Udah, cepet duduk."

Aku kini menggenggam bunga yang Banda berikan, sementara pria di hadapanku itu senyum-senyum sendirian. Aku bisa melihat beberapa pasang mata menertawai kami, termasuk ibu pemilik kedai. Tanpa sadar aku menutupi wajahku dengan bunga, malu.

"Happy birthday, Za," Ucap Banda lagi, dengan senyum yang tak kunjung hilang. Entah, mungkin dia pikir dia cukup romantis dengan memberikanku bunga di hari ulangtahunku. Padahal aku tak akan luluh dengan hal-hal semacam ini.

Banda mulai mengeluarkan jurus andalannya: berpuisi. Dan selama hidupku, aku tidak pernah paham arti dari puisi-puisi, termasuk yang Banda buat. Apakah itu tentangku, memujiku, memuji dirinya sendiri? Jujur, aku tidak terlalu peduli. Suaranya mengawang di udara, tidak masuk satupun ke telinga. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi saja. Aku ingin pulang dan protes pada orangtuaku karena berniat menjodohkan aku dengan laki-laki bucin sepertinya.

Kualihkan pandanganku ke luar jendela. Sesekali tersenyum menanggapi Banda, tidak ingin ia sakit hati juga karena aku mengabaikannya. Tapi, entah apakah ini takdir, hadiah dari Tuhan, atau cuma kebetulan, mataku justru menangkap sesosok pria di luar sana. Mungkin memang ragaku saja yang masih bertahan, hati dan pikiranku tidak.

Kala. Aku melihatnya di luar, mengenakan sebuah jaket denim, sedang menawar pedagang buah.

Reflekku sangat tidak tahu diri, memang. Maaf, Banda. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu dengan tiba-tiba berdiri, membuat air di dalam gelas sedikit melompat ke luar, dan puisinya berhenti di tengah-tengah. Tapi ada yang harus aku lakukan. Sekarang, atau tidak sama sekali.

Akhirnya aku melangkah keluar, meninggalkan kedai dengan Banda di dalamnya, memandangiku bingung. Buket bunga itu masih aku genggam. Sayangnya, terlalu kencang sampai mungkin sedikit rusak. Aku tidak peduli apa yang kulewati saat aku menyeberangi jalan. Mataku tertuju pada sosok Kala yang masih memunggungiku, tidak menyadari kehadiranku.

Setibanya tepat di belakang Kala, kugunakan buket bunga tersebut sebagai senjata untuk memukul tengkuknya. Seketika bunga putih yang tadi memenuhi tangkainya berjatuhan ke punggung Kala, ke jalanan, terinjeak. Rusak.

Aku mengendus kesal, menunggu reaksi pria itu. Sedangkan Kala yang terkejut hanya mengusap tengkuknya sembari menoleh, lalu semakin terkejut karena melihat sosokku yang kuyakin tak ada dalam ekspektasinya bertemu denganku di tempat seperti ini.

"Iza? Lo... apa-apaan, sih?" Pria itu menautkan keningnya heran. Tapi masih sempat-sempatnya membersihkan serpihan bunga dan batang dari pundaknya yang tegap.

Aku tak habis pikir. Kala bahkan tak antusias melirikku. Seolah tidak ada yang terjadi selama tiga bulan ini. Seolah segalanya sedang normal-normal saja. Aku semakin marah, tapi mataku juga mulai basah membayangkan selama ini Kala baik-baik saja tanpa aku. Sementara aku hancur, dan susah payah membenahinya kembali.

"Elo yang apa-apaan, Kal. Lo kemana aja? Lo dimana? Kenapa lo se-watados ini muncul di hadapan gue? Dan kenapa cuma gue yang ngerasa mesti banget mukul elo karena kesel? Apa-apaan sih, lo, Kal?"

Beberapa menit yang lalu aku memohon pada Banda untuk tidak menarik perhatian orang lain. Sekarang, aku seperti menjilat ludahku sendiri. Sudah tidak peduli seberapa banyak yang memperhatikan kami.

Kala masih memasang ekspresinya yang kesal karena aku tiba-tiba saja mempermalukannya di depan umum. Tapi dia tak menjawab satupun pertanyaanku, masih tampak terlalu santai. Heran aku melihatnya.

"Lo nggak mau ngomong apa-apa sama gue, Kal?" Entah bagaimana akhirnya aku melemah. Terlalu marah sampai aku lelah bentak-bentak.

"Nggak." Kala melepas jaketnya, mengibaskannya. Ia menatap langit dengan matanya yang kecil. Sudah begitu silau, pula. Ia menengok ke kanan, ke kiri. Tidak. Dia tidak menatap mataku sedikitpun.

Aku juga sudah tidak tau harus berkata apa.

"Gue...," Kala akhirnya angkat bicara. "...nggak bisa ketemu lo lagi. Kita udahan, Za. Ga usah cari gue lagi. Lo juga..." Kala melirik kedai tempat Banda berada. "...ada yang nungguin kan?"

"Nggak gitu, Kal. Lo harus jelasin ke gue kanapa kita-"

"Iza," Akhirnya, Kala berdiri menghadapku, menatapku dalam-dalam seolah ia ingin aku mengerti ucapannya. "Gue pamit."

Aku tau. Aku sebenarnya tau, sangat tau, kalau pada ujungnya aku dan Kala tidak akan kembali seperti dulu. Aku pikir aku sudah siap mendengar kalimat itu terucap dari mulutnya, masuk lewat telinga dan menyentuh sesuatu di dalam hati yang sudah kujaga setengah mati. Aku kira aku akan baik-baik saja saat semua itu terjadi.

Namun, bahkan setelah sosok Kala sudah tidak ada di hadapanku lagi, berganti dengan sosok Banda yang mengkhawatirkanku dan mengajakku pulang, aku masih bergeming. Aku masih bergeming. Tau-tau aku sudah di rumah. Menangis pilu di pojok kasur seperti orang paling bucin di dunia dan yang paling patah hatinya.

Aku seperti menjilat ludahku sendiri. Lagi.

***


Bestie


Pablo menelan ludah, terkejut melihat Gracia yang tiba-tiba muncul dan membanting tasnya di bangku tempat mereka duduk. "Kenapa, sih?"

Gracia mendengus, tampak begitu kesal. Ia bahkan melipat kedua lengannya di depan dada, duduk bersandar demi meredam emosi. Ada yang bilang, "jika sedang marah maka duduklah". Maka ia melakukannya demi hal itu. Tapi karena Pablo tampaknya sangat ingin tau, Gracia akhirnya mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi hingga ia begitu kesal.

Detik setelah Gracia menceritakan inti ceritanya, Pablo tergelak. "Ya elah, Cia, diledek rambut kriting aja ngambek. Perasaan, Gracia yang gue kenal, draft tugas akhirnya dicaci maki sama dosen juga nggak ada sedih-sedihnya,"

Gracia mendengus lagi. "Masalahnya mereka itu ngeledek elu juga, Pab. Bingung gua. Fisik kaya gimana sih yang nggak mereka ledek? Ada aja salahnya!"

"Ya enggak akan beres-beres, Cia, ngomongin fisik orang mah. Dari dulu juga kita tau, kan?" Pablo mencondongkan punggungnya ke depan, supaya ia bisa menatap kedua mata Gracia yang masih tampak merah karena marah.

Gracia butuh waktu untuk meredakan emosinya. Selain duduk, keberadaan sahabatnya itu ternyata berhasil membuatnya jauh lebih tenang. Pria itu memang terbaik. Ledekan apapun tak mempan padanya. Sudah sejak kecil Gracia belajar banyak dari pria kocak di sampingnya itu. Dia tidak habis pikir, masih ada orang yang bisa-bisanya melihat Pablo dari fisiknya saja. Kalau mereka sampai tahu isi hati dan pikirannya, mereka pasti auto jadi follower-nya!

"Lagian nih, Cia," Pablo menarik kembali punggungnya, bersandar. "Yang mereka ledek dari gue nggak cuma rambut gue, kali. Gue juga item. Dan mereka nggak tau aja kalau gue tidur jelek banget, kaya gini nih," Pablo mempraktekan caranya tidur dengan sangat norak, dan itu membuat Gracia tertawa. " So, what? Gue juga nggak butuh pujian mereka dan berlagak keren di depan mereka." Ia membenarkan posisi duduknya lagi. Kali ini Gracia sudah duduk tegak dan menoleh padanya, menaruh seluruh perhatian pada pria di sebelahnya. "Kalau ini seleksi alam, cuma orang-orang kaya elo, Cia, yang pantes jadi temen gue. Dan gue bersyukur, karena dengan begini, pertemanan gue nggak toxic" Pablo menatap Gracia dalam-dalam, lurus ke pupil matanya yang berwarna coklat.

Gracia bergeming. Pablo benar. Semua yang ia katakan benar. Ia juga bersyukur memiliki teman sepertinya.

"Tapi, lo bukan toxic buat gue kan, Cia?" Pablo masih saja menggodanya.

"Ih! Apaan sih lu, Pab. Ya bukan lah!"

Ekspresi jenaka Pablo membuat Gracia tertawa. Sath menit bersama Pablo membuatnya lupa rasa kesal yang ia alami sebelumnya. Kalau bisa, ia ingin terus seperti ini.

***


Right Angle (Challenge Whatsapp)


Dimas bersiul girang begitu mendapatkan telepon dari kurir bahwa paketnya sudah sampai di rumah. Ia tidak sabar untuk segera pulang, dan meng-unboxing gundam yang sudah lama ia tunggu-tunggu kedatangannya. Saat itu Dimas masih merasa baik-baik saja sampai langkahnya terpaksa berhenti karena mendengar suara mengamuk seseorang di salah satu tangga koridor yang sepi.

Laki-laki itu penasaran. Pasalnya, bel pulang sekolah sudah berlalu sekitar satu jam yang lalu, dan tidak banyak yang berada di lantai tiga jika sudah mendekati petang. Akhirnya, sembari berdoa supaya tidak ketahuan, Dimas mengintip dari celah tembok sisi tangga.

Di luar dugaan, ternyata sosok tersebut adalah perempuan dari kelasnya. Sialnya, Viatna (nama gadis itu) adalah satu dari cewek-cewek yang paling dijauhinya. Bahkan di seluruh sekolah.

Laki-laki itu mendengus. Menyesali diri kenapa ia harus terjebak di tempat ini, dan kenapa kebetulan sekali perempuan itu ngamuk-ngamuk di tangga koridor yang merupakan jalan satu-satunya bagi Dimas untuk pulang.

Tak bisa berbuat banyak, Dimas mencoba untuk mencari tau, adakah kesempatannya untuk turun. Semakin diperhatikan, Dimas semakin penasaran.

Viatna ternyata tidak hanya merasa kesal dan marah. Setelah menggerutu tidak jelas, menyebut nama seseorang yang tak Dimas kenal, menghentakkan kaki di lantai, tanpa mampu melakukan apa-apa lagi kemudian perempuan itu menangis. Menangis begitu saja. Memeluk lutut, bersandar pada dinding yang dingin.

Dari tempat Dimas berada, ia masih memperhatikan. Perempuan itu tidak seperti yang biasa dilihatnya di kelas (yang penuh percaya diri, bahkan terlalu penuh sampai terkadang merendahkan orang lain). Perempuan itu biasa berkelompok, meski Dimas juga heran kenapa kali ini ia sendirian. Viatna dan teman-temannya bahkan bisa tertawa begitu keras di koridor, menertawakan apapun yang mereka anggap lucu. Apapun yang Dimas lihat soal perempuan itu kalau tidak tengil, ya egois.

Tapi kali ini, Viatna benar-benar bukan dirinya. Perempuan itu memang suka marah-marah di kelas, kalau anak laki-laki yang sama tengilnya mendadak membuatnya naik darah. Tapi kebanyakan siswa perempuan lain biasanya mendukungnya, terutama kalau para cowok itu sudah keterlaluan. Meski kadang marahnya Viatna lebay, sih.

Sesaat Dimas berpikir, Viatna juga manusia. Dia juga punya sesuatu yang mungkin harus ia simpan sendiri saja. Tidak dari teman-teman dekatnya, apalagi orang asing seperti dirinya. Jadi, alih-alih memaksakan diri turun dan mesti mengganggu self pep talk-nya, Dimas memutuskan untuk bersabar.  Mungkin sebentar lagi perempuan itu pergi.

Tak berapa lama, Dimas sadar Viatna tak lagi mengeluarkan suara. Begitu diintip, perempuan itu masih di sana, memeluk lutut dengan begitu menyedihkan. Sesaat Dimas berfikir, mungkin Viatna ketiduran, dan ini kesempatan baginya untuk melewatinya tanpa mengganggunya. Dia janji tidak akan pernah memberitahu siapapun, dan akan menganggap ia tak pernah melihat apa-apa.

Untuk itu, Dimas memutuskan untuk melangkah menuruni tangga. Dimas hampir berhasil begitu jarak dirinya dengan Viatna hanya berbeda satu meter. Ia berusaha sekuat tenaga tak menghasilkan suara apa-apa. Tapi kemudian, di luar kendalinya, ponselnya berdering.

Seketika Viatna mendongak. Ekspresinya terkejut menemukan sosok orang lain di sana, entah sejak kapan.

Dimas juga sama terkejutnya. Ia bahkan menjatuhkan ponsel saking terkejutnya. Laki-laki itu bukan orang yang pandai bernegosiasi. Jadi, ketika Viatna melemparinya dengan tatapan tajam siap membunuh, Dimas hanya berharap ia bisa berlari pergi.

Di luar dugaan, Viatna justru mengambilkan ponsel Dimas dan mengembalikannya. Tanpa mengatakan apa-apa, Viatna memutar tubuhnya. Ia tampaknya merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Ia juga menghapus air mata dan membenahi rambutnya. Merasa sudah lebih baik, ia kembali menghadapkan tubuhnya pada Dimas.

Laki-laki itu terdiam, berjuta kemungkinan yang akan dilakukan Viatna terbayang di dalam otaknya. Tapi ternyata, yang kemudian Viatna lakukan adalah tersenyum, memamerkam giginya yang putih sembari terkekeh, "Gue ketiduran lagi di sini," ungkapnya. Lalu dengan imejnya yang seperti sebelum-sebelumnya, Viatna berlalu meninggalkan Dimas yang bergeming. Antara bingung dan penasaran. Ditambah sedikit rasa kagum yang entah muncul dari mana. Tapi setidaknya, kini, pandangannya terhadap perempuan yang paling ia jauhi di sekolah, berubah.

***


Sempurna (Challenge Whatsapp)


Anggar menghentikan langkahnya begitu ia sadar telah menginjak tanah basah yang membuat sepatunya kotor. Sembari menahan diri untuk tidak mengeluh, ia mendongak, memastikan Thalia, yang sejak awal tak memberitahu sejujurnya kemana mereka akan pergi, masih berada di dekatnya. Meski sudah berjalan berkilo-kilometer menuju atas bukit yang entah apa maksudnya, gadis itu tetap saja terlihat enerjik, seolah tak kehilangan tenaga sedikitpun.

"Ayo, Gar. Dikit lagi. Tuh! Udah keliatan puncaknya!" Gadis itu melompat, girang melihat tujuannya sudah di depan mata.

Anggar hanya membalas dengan senyuman. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul tujuh lebih. Mungkin ia memang harus membatalkan janji dengan temannya demi memenuhi keinginan Thalia kali ini.

Dengan harapan ia bisa segera pulang jika keinginan Thalia sudah terpenuhi, Anggar mengumpulkan kembali tenaganya dan mulai melangkah naik malawan gravitasi.

Tak berapa lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat yang Thalia sebut puncak: sebuah padang rumput luas, dengan pemandangan langit malam yang indah. Seketika lelah yang Anggar rasakan barusan hilang begitu saja.

"Perfect," Thalia tersenyum puas di samping Anggar. Lengannya melilit perlahan pada lengan Anggar, membuat laki-laki itu menoleh dan melihat jutaan bintang lebih banyak di mata sang gadis.

Thalia menoleh, senyumnya seolah permanen. "Yuk," katanya, menarik tangan Anggar menuju tempat terbaik untuk melihat langit.

Setelah menemukan tempat duduk dengan view terbaik, Thalia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya: sebuah rice box. "Nih,"

Anggar menerima sambil tertegun. "Ini apa?"

Thalia terkekeh. "Kembang tujuh rupa," candanya, membuat senyum Anggar ikut terbentuk. "Nasilah, Gar. Laper kan?"

"Kamu jauh-jauh ke sini buat ngajakin aku makan rice box?" Tanya Anggar tak percaya.

Gadis itu lagi-lagi terkekeh, meski tangannya tak bergenti bergerak; menyiapkan peralatan makan untuk dirinya dan Anggar. "Yang kita bayar di sini itu view-nya, Gar. Kamu nggak merasa semuanya impas waktu liat langit seindah ini?"

Anggar menoleh pada langit sesaat, kemudian kembali menatap Thalia. "Makanya tadi kamu bilang perfect?"

Kali ini Thalia tak terkekeh. Ia hanya tersenyum. Memandang kedua sepatunya yang kotor. "Perfect itu kalau semuanya lengkap."

"Lengkap?"

Thalia mengangguk. "Ada langit cerah, ada makanan," Thalia berhenti sebentar, menoleh pada Anggar. "...dan ada kamu."

Anggar yang sedari tadi tak berhenti menatap Thalia, terpaksa mengalihkan pandangannya. Meski sejujurnya ia tak ingin melewatkan ini: momen dimana ia bisa melihat ekspresi Thalia yang seindah itu. Thalia benar, ini sempurna.

"Oops." Thalia bergeming memandang kotak nasinya sendiri.

"Kenapa?"

"Aku lupa bilang kalau aku nggak mau pake bombay,"

Kini giliran Anggar yang terkekeh. "Ya udah sini, oper ke aku,"

"Tukeran sama ayamnya mau nggak?"

"Thal,"

Thalia tak bisa menahan tawa, ia terlalu bahagia untuk memendam segalanya di dalam hati. Ini hari terbaik, baginya atau pun Anggar. Ya, ini sempurna.

***


Dia yang Tak Suka Makanan Manis (Perkenalan Tokoh "Yang Terlewat" by Fairever)

Baru sedikit aku menyesap teh pagiku hari itu, ayah memanggil dari luar. Aku memutuskan untuk sekalian saja membawa seteko teh dengan tiga cangkir ke luar, siapa tau ada yang mau. Dan, yah, tentu saja ayah lebih suka kopi dibanding minuman apapun. Walhasil, teh yang kubawa tidak lagi. Semuanya lebih suka kopi.

Ayah duduk di sampingku, di atas amben yang hari ini tampak bersih. Mungkin ini karena mereka membuka bengkel lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa sepulang dari Garut, baik ayah, Pak Rizal, ataupun Keanu, tampak lebih bersemangat bekerja di banding sebelumnya. Aku tidak pernah tau apa yang terjadi di sana karena mereka bilang itu hanya undangan pernikahan biasa dari anak client langganan ayah.

Tapi aku tidak percaya.

Donat gula yang kubawa habis dalam beberapa menit saja. Aku menggoreng sekitar sepuluh donat, dan mungkin enamnya habis oleh aku dan ayah, sementara Keanu hanya makan satu. Dia tidak suka makanan manis.

Omong-omong, biar kuperkenalkan satu-satu dari mereka, sebelum mereka kembali sibuk dan kehilangan ketampanan mereka pagi ini. Aku juga harus cepat-cepat kembali ke meja laptop dan menyelesaikan sentuhan terakhir dari draft seminar sebelum kukirim pada dosen siang nanti.

Jadi..., yah, oke. Pria yang berbadan paling besar itu ayahku. Dia seorang single parent yang membesarkanku sejak... dua puluh tahun yang lalu? Ya, hampir seumur hidupku. Aku tak begitu mengingat kapan terakhir kali aku melihat ibu.

Ayah membuka bengkel ini saat aku kelas enam SD, saat ia memutuskan untuk bekerja sambil mengawasiku kapanpun ia bisa. Jadilah bengkel mobil dan motor, termasuk toko onderdilnya, bersebelahan dengan rumah kami. Dengan pekarangan yang kami tata sedemikian rupa sehingga tetap enak dipandang meski kadang masih bisa kucium bau-bau oli mesin.

Sepanjang hidupku di kota ini, kami tak pernah pindah kemana-mana. Ayah selalu memasukkanku ke sekolah-sekolah yang paling dekat dengan rumah, bahkan hingga aku masuk universitas. Aku mungkin tampak sangat dimanja, tapi hal itu juga karena ayah tak pernah berhenti mengkhawatirkanku sepanjang hidupnya. Aku sangat paham itu dan aku tidak pernah menolak untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah dibanding di tempat lain. Untungnya, aku sangat suka di rumah.

Karyawan pertama ayah, pria yang senang sekali bernyanyi saat kerja, Pak Rizal. Tempat tinggalnya cukup jauh dari sini, tapi ia sangat bersahabat dengan ayah dan rela menghabiskan waktu kerjanya di sini selama tujuh hari dalam seminggu. Pak Rizal punya dua anak kembar yang sering dibawanya kemari saat istrinya berkunjung. Keluarga kecil itu terlihat sangat harmonis dan bahagia dengan anak-anak kecil yang tampak sangat akbrab, Jakie dan Jacob.

Tapi, kalau dipikir-pikir, ini kali pertama dalam cerita, aku menceritakan soal keluarga Pak Rizal.

Ayah pernah berkata, jiwa bengkel ini ada di tangan Pak Rizal. Ketika pria itu tidak bisa datang ke bengkel karena alasan tertentu, bengkel ini seperti sedang tertidur. Setengah mati. Setelah hampir delapan tahun bekerja dengan ayah, dan melihatnya setiap hari, aku sepertinya sedikit mengerti kenapa ayah menganggap Pak Rizal seberharga itu.

Dan, yang terakhir, seorang laki-laki yang usinya hanya tiga tahun di atasku, tapi skill bengkel-membengkelnya seringkali dipuji ayah diam-diam saat makan malam, Keanu. Laki-laki paling pendiam yang pernah kutemui (by the way, aku tidak punya banyak teman, terutama teman laki-laki). Paling dingin saat disapa. Paling fokus kalau sedang bekerja, tapi tak pernah protes dengan apapun yang Pak Rizal keluarkan dari mulutnya setiap hari.

Keanu benar-benar orang yang menghormarti ayah. Dia menghormati ayah, seperti aku menghormati dosen paling senior di kampus. Dia akan mendengarkan apapun yang ayah jelaskan soal mesin, soal caranya melayani pelanggan, dan sangat cepat belajar. Laki-laki itu tidak pernah datang terlambat, tidak pula pulang terlambat. Keanu bilang, ia harus menghormati waktunya, saat bekerja, ataupun saat ia pulang.

Aku tidak pernah tau ia tinggal dimana. Tapi dari cerita ayah, ia tinggal bersama ibunya saja. Dan dari segala cerita yang kudengar dari ayah tentang Keanu, aku tau ayah sama bangganya pada pria itu. Dan sedikit banyak hal itu mempengaruhiku.

Lihat, sekarang saja Keanu lebih serius membetulkan sebuah mobil yang sudah berada di bengkel sejak kemarin, ketimbang ngopi pagi bersama ayah dan Pak Rizal sembari ngobrol. Aku belum bicara lagi dengannya sejak...

...sejak...

...sejak aku bilang aku menyukainya.

"Nu, duduk dulu. Masih kepagian buat mulai kerja. Embun aja masih ada." Ujar Pak Rizal, saat ia menggigit donat ketiganya.

Laki-laki yang diajak bicara tak langsung merespon. Ia sedang mencoba menyalakan mesin mobil untuk kesekian kalinya hari ini, dan begitu mesin menyala, ekspresi lega tampak di wajahnya (meski tak banyak yang berubah dari otot-otot wajahnya yang kaku itu).

"Weh, cepet juga dia," Komentar Pak Rizal lagi, yang ekspresinya sama seperti ayah: kagum.

Aku tidak mengerti soal mesin motor atau mobil. Tapi dari ekspresi kedua pria di depanku, Keanu mungkin memang sehebat itu.

"Orangnya ke sini jam sembilan," Tukas Keanu, begitu ia mendekati amben dan meneguk kopinya yang tinggal setengah.

Pak Rizal manggut-manggut. "Pantesan kamu buru-buru nyelesainnya,"

"Oh iya," Ayah yang sedari tadi tak mengeluarkan suara mulai terdengar. "Kalau nanti belum ada kerjaan, tolong benerin motornya si Fely, kemarin dia nabrak mobil orang. Emang gak ada otaknya,"

Aku yang sedang meneguk teh mendadak tersedak. "Ayah!" Nadaku meninggi, tak terima dikatai tak punya otak.

"Motornya yang gak punya otak, kamu mah punya," Ayah melanjutkan, entah kenapa ekspresinya yang datang tidak terlihat seperti bercanda, meski aku tau ia bercanda. Ayah kan begitu, sebelas dua belas dengan Keanu.

"Cuma nggak dipake aja," Pak Rizal melanjutkan tanpa instruksi, membuat ayah terkekeh pendek.

"Pak Rizal!"

"Ya lagian, masa ada mobil parkir kamu tabrak? Kan mobilnya bingung dicium tiba-tiba," Pak Rizal memulai lagi ocehannya. Memang ia tak pernah kehilangan kata-kata untuk meledekku.

Tapi, ini memang kecelakaanku yang ketiga kalinya minggu ini. Ayah sampai tidak mau tau lagi dan melarangku mengendarai motor sampai kegilaanku berakhir. Ini pasti gara-gara otakku dipenuhi bahan skripsian. Ukh... Aku juga ingin ini segera berakhir.

Walhasil, aku terima-terima saja diceramahi ayah atau Pak Rizal soal caraku mengendarai motor yang aneh. Tapi mungkin, itu bisa jadi alasanku untuk minta Keanu antar-jemput aku ke kampus?

Ha..ha..haha..hahaha..ha.

Oke. Sebaiknya aku segera masuk dan menyelesaikan draft-ku sebelum aku modusin Keanu.

***