Rabu, 20 Oktober 2021

Kisah yang Ingin Aku Lepaskan

Aku inginn bercerita tentang kisah yang dulu terasa perih untuk diingat, dan terdengar hebat oleh adikku yang mendengarkannya. Berkaitan dengan postinganku sebelumnya, kali ini aku akan menceritakan kisah ini, tanpa perasaan yang menggebu-gebu. Alasan aku menuliskannya juga agar aku ingat momen dimana aku dibentuk sedemikian rupa, sehingga aku bisa jadi manusia yang seperti sekarang ini.

Kisah ini terjadi di awal semester pertama kelas dua sekolah menengah atas. Waktu itu aku memang tidak suka belajar, terutama mata pelajaran yang besoknya akan diujiankan. Sepeeti kebanyakan siswa lainnya, aku belajar malam sebelumnya dengan metode SKS.

Besoknya, ketika ujian tiba, guru memberitahu bahwa kami hanya harus menuliskan jawaban pada selembar kertas HVS yang dibagikan. Tidak perlu menulis soal, hanya tulis jawaban dengan cara menjawabnya. Pikiranku saat itu benar-benar sesimpel itu : menjawab pertanyaan. Aku sama sekali tak berpikir harus menulis dengan pensil, jadi aku menulis jawabanku dengan pulpen.

Minggu depannya, kertas ujian yang dikerjakan tersebut dibagikan kembali pada siswa untuk diperiksa bersama-sama. Aku memegang kertas siswa lain, dan ada siswa lain yang memegang kertasku untuk dinilai. Waktu itu aku duduk di bangku paling depan, bersama seorang siswa perempuan yang kukenal cukup ambisius dalam belajar.

Ketika guru mulai menuliskan jawaban satu persatu di papan tulis, aku masih merasa semuanya baik-baik saja. Sampai pada suatu momen, siswa yang kertas jawabannya aku pegang, berusaha memanggilku dari bangku belakang. Aku menengok untuk menyahut, dan ternyata ia memintaku menggantikan jawaban miliknya supaya sesuai dengan jawaban yang guru tuliskan di papan tulis, jika memang jawabannya berbeda.

Waktu itu aku memahami hal tersebut sebagai sebuah kecurangan.

Protesku dibalas protes lagi oleh siswa tersebut. Katanya, semua orang juga melakukannya. Begitu aku meluaskan pandanganku, aku terkejut. Ternyata dia benar. Sebagian besar siswa dengan was-was dan tidak tenang saling berbisik dan memberi kode supaya jawaban mereka diganti oleh siswa yang memegang kertasnya.

Aku merasa ini sudah tidak beres. Meski bukan jawabanku yang diganti, aku tetap merasa tidak benar jika harus mengganti jawaban siswa yang kertasnya kupegang.

Setelah didesak terus-menerus oleh sang pemilik kertas jawaban, akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikannya saja, biar dia yang menggantinya sendiri. Aku tidak ingin tanganku ikut kotor, pikirku.

Dengan perasaan campur aduk, aku memperhatikan tingkah laku sebagian siswa di kelas tersebut. Rasanya ingin mara, ingin speak up, tapi aku sadar itu akan merugikan diriku sendiri di kemudian hari karena bisa jadi aku akan dianggap sebagai pengkhianat kelas. Jadi aku diam, dengan tatapan jijik aku memperhatikan mereka yang tanpa merasa berdosa mengganti jawaban mereka supaya setidaknya tidak diremedial.

Begitu jawaban selesai ditulis oleh guru, dan beliau kembali duduk di meja untuk memperhatikan kami, kontan seisi kelas kembali hening. Aku yakin siswa lain juga gugup tentang nilai akhirnya, sama seperti aku -yang bahkan tidak meminta untuk diganti jawabannya sama sekali. Aku bahkan tidak tahu dimana kertas jawabanku berada.

Begitu nama-nama siswa disebut guru sesuai absensi kelas untuk dimasukkan nilainya, kami jadi tau berapa nilai kami. Kebetulan waktu itu absensiku berada di urutan kedua dari bawah, jadi aku bisa mendengar nilai puluhan siswa lain di atasku di atas KKM semua.

Begitu namakku disebut, seorang siswa menyebutkan angkanya. Aku yakin bukan aku saja yang terkejut mendengarnya, meski aku tetap berusaha agar setidaknya tidak menangis di depan orang-orang.

Empat puluh tiga. Di saat yang lain berada di atas tujuh puluh tujuh, nilaiku merempet KKM saja tidak.

Untuk itu, begitu absensi selesai, guru menanyakan perihal tersebut padaku. "Kenapa kamu saja yang diremed, ya?" Tanyanya dengan wajah polos. Aku sendiri tidak tau apakah guru tersebut memang tidak mendengar kegaduhan yang dihasilkan para siswa saat ia memunggungi kami, atau dia hanya pura-pura?

Tapi semua pembelaanku hanya bisa aku telan sendiri. Tidak ada jawaban yang keluar sama sekali dari dalam mulutku, malah air mataku yang bocor. Aku juga yakin ekspresiku waktu itu seharusnya sudah menggambarkan perasaan yang tidak keruan.

Hal yang paling kuingat dan paling membuat marah adalah ketika mendengar seorang siswa laki-laki yang duduk di barisan yang sama denganku, tapi di bangku paling belakang, berkata dengan suara lantang yang tidak tahu malu.

"Nggak belajar kali, bu!"

Sejujurnya aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Terlalu shock. Kalau di scene sebuah film, adegan saat itu seperti mode slow motion yang tau-tau banyak siswa mengerubuni mejaku. Aku seolah tenggelam dalam pikiranku sendiri, sementara siswa-siswa yang mendekatiku memberikan simpati mereka. Beberapa meminta maaf karena telah membiarkanku remedial sendirian, sementara ia merasa dirinya seharusnya remedial juga kalau tidak berbuat curang. Samar-samar aku juga mendengar ada yang menanyakan kenapa aku tidak ikut seperti mereka (mengganti jawaban). Ada juga mereka golongan orang-orang yang memang mendapat nilai bagus dengan jujur, mencoba menyemangatiku yang kuterima dengan hati kosong. Lalu tentu saja, siswa yang menilai kertas jawabanku datang dan menjelaskan kepadaku mengapa ia tak bisa mengganti jawaban milikku yang memang sebagian besarnya salah: karena hanya aku di kelas ini yang menulis menggunakan pulpen.

Saat itulah kesadaranku kembali (meski masih dipenuhi oleh emosi). Aku merebut secara tiba-tiba kertas jawabanku, kemudian meremasnya saking kesalnya. Aku berkata dengan marah, "nggak ada yang nyuruh kamu benerin jawaban aku!"

Rupanya kemarahanku membuat tangisku pecah. Mejaku yang tadinya ramai, perlahan menyepi. Siswa yang duduk di sampingku tak bisa berbuat banyak melihatku menahan tangis karena sadar masih ada guru di kelas ini. Dia terus-menerus minta maaf, bahkan memberikanku lembar jawaban miliknya (yang nilainya dianggap lulus) supaya aku bisa mengerjakan soal remedialku dengan lebih cepat (ternyata soal remedialnya sama dengan sebelumnya).

Guru mempersilakan aku mengerjakan remedial di luar kelas, dimana pun yang nyaman untukku. Lalu aku memilih masjid. Lebih tepatnya, aku memilih masjid supaya aku bisa menangis puas di sana.

Demikian kisah perihku ini. Jujur, kisah ini membentuk diriku yang di kemudian hari sulit percaya pada orang lain, dan kemudian merasa diri ini tidak bernilai (insecure).

Untuk orang-orang yang berada di kisah ini...

Guruku...

Siswa sebangkuku...

Siswa yang menilai hasil ujianku...

Siswa yang berseru lantang dari bangku belakang...

Siswa-siswa yang berempati padaku...

Meski awalnya aku marah dan membuatku jadi orang yang begitu di sisa masa sekolahku, aku tetap berusaha untuk memaafkan kalian. Aku juga tidak tau jika kisah ini dilihat dari sudut pandang yang berbeda, apakah akan sama atau malah berbeda seratus delapan puluh derajat. Dulu aku sangat membenci sekolah setelah kejadian itu (kecuali pada bagian eskul yang cukup menyenangkan), dan sekarang aku malah menyesal karena rasanya tidak maksimal menikmati masa SMA.

Beberapa bagian membentuk diriku yang sekarang, beberapa bagian lainnya membuatku merasa harus menerima dunia yang memang tidak selalu berpihak padaku. Sementara aku harus tetap kuat dan tegar menjalani hidup yang lebih perih ke depannya. Seolah kisah ini hanya miniatur dari perih hidup yang sebenarnya.

Aku minta maaf jika beberapa orang yang kusebut tadi membaca cerita ini dan merasa tidak sesuai dengan yang dirasakan. Tapi semoga kalian semua sehat.

Kisah Lama yang Hebat

Ada beberapa kisah, yang waktu diceritain pertama kali rasanya seru banget. Banyak orang terinspirasi karena mendengarnya. Tapi semakin diceritakan, pencerita justru semakin sadar beberapa bagian dari ceritanya telah didramatisir sebelumnya. Begitu puluhan kali kisah itu diceritakan, rasanya sudah tidak sama serunya seperti pertama kali ia menceritakannya.

Mengapa?

Mungkin karena waktu itu, pengalaman tersebut merupakan pengalaman terpahit untuk si pencerita. Begitu waktu berlalu, ia mendengar dan mengalami banyak hal lain yang lebih pahit daripada kisah yang selalu dibanggakannya itu. Walhasil, sekarang, ceritanya sama sekali tak terasa perih dan hebat untuk didengarkan. Pelajaran-pelajarannya telah diambil, dan disimpan oleh dirinya sehingga kini ia bisa jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

Kisah itu tidak harus dilupakan, justru harus disimpan. Jika memang saat diceritakan kembali sudah tidak sehebat dulu rasanya, tapi bagi beberapa orang, mungkin kisah seperti itu akan menginspirasi mereka. Tidak apa, santai saja. Semua juga ada waktunya.

Jumat, 27 Agustus 2021

Tujuh Bulan Terakhir Ini

Sudah tujuh bulan sejak terakhir kali aku menulis di blog ini. Dalam kurun waktu tersebut, banyak sekali hal yang terjadi. Saking banyaknya, aku bahkan tidak tahu harus menulis mulai dari mana.

Di bulan Februari, aku mendapatkan kamera digital pertamaku (Fujifilm XT-10) yang aku dapatkan dari teman sekantor yang menjualnya dengan harga yang sesuai budget yang aku miliki. Entah mengapa aku membeli merk yang sebelumnya sama sekali belum pernah terpikirkan olehku. Tapi setelah kupertimbangkan, tidak ada salahnya aku mengambilnya.

Di bulan Maret, pertama kalinya aku mencoba jalan-jalan ke IKEA di Sentul City, plus AEON Mall karena kedua tempat tersebut memang bersebelahan. Tempatnya cukup menyenangkan dan waktu itu cukup berkesan sampai-sampai aku meng-upload salah satu momennya di Instagram.  Atau sebetulnya, aku hanya orang yang cukup sering mengunggah sesuatu di feed Instagram tanpa harus mempertimbangkan seberapa berkesannya momen tersebut. Hehe.

Di bulan April, aku bertemu dengan seseorang dari dating apps. Sebut saja dia A. Dia seseorang yang punya hobi photography dan sudah memiliki akun Instagram khusus untuk mengunggah hasil fotonya. Boleh dicek akunnya @jipongakbar karena dia di-follow oleh salah satu fotografer terkenal, yaitu @okyarisandi. Cool, yeah?

Pertengahan bulan April, kita memasuki bulan Ramadhan, ingat?

Ramadhan tahun ini tidak begitu berbeda dengan tahun lalu karena masih dalam masa pandemi. Bedanya, kalau tahun lalu kami banyak di rumah karena WFH, sehingga mau tak mau sholat tarawih pun di kosan saja. Tahun ini, kami bisa sholat berjama’ah di masjid, meski harus WFO setiap hari.

Perbedaannya lagi dengan tahun lalu, tahun ini Ramadhanku punya teman baru. Sebut saja dia B, laki-laki lain lagi yang aku kenal lewat dating apps. Seseorang yang rasa-rasanya punya banyak hal menarik untuk didengarkan ceritanya. Kami juga punya hobi yang sama : main game. Meski jelas dia jauh lebih gamer daripada aku yang hanya memainkan genshin impact dan The Sims 4 saja.

Hal lain yang membuatku betah berlama-lama ngobrol dengannya adalah karena si B ini merupakan seseorang yang pernah membuat film documenter sebagai tugas akhirnya untuk lulus dari ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia). Ya, dia anak perfilman. Bagiku yang punya mimpi salah satunya belajar di perfilman, bertemu orang dari bidang tersebut tentu membuat mata berbinar-binar. Segala sesuatu tentang dirinya jadi menarik untuk diketahui.

Mei setelah lebaran, aku ke Bandung lagi. Berniat bertemu B secara real life untuk pertama kalinya. Mungkin selama satu bulan berinteraksi lewat social media dengan B membuat ekspektasiku sedikit lebih tinggi dari seharusnya –justru seharusnya aku tidak berekspektasi sama sekali. Jadi, ketika segala sesuatunya tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, aku kecewa.

Seperti denial, aku mencoba baik-baik saja. Padahal rasanya sudah jelas bahwa aku baper. Haha.

Secara parallel, aku juga mengenal seseorang yang lain. C, yang kukenal dari aplikasi yang sama, tapi sama sekali tampak tak menonjol. Dia membalas chat dariku sesukanya. Mungkin seminggu sekali. Aku juga sama. Tidak begitu mengindahkan pembicaraan kami yang terkadang sudah terlalu basi untuk dilanjutkan. Tapi entah kenapa, malam itu seolah takdir membawa aku bertemu dengannya.

Selama tiga hari di Bandung dengan niat bertemu B di hari kedua, aku bertemu C untuk mengisi waktu luang. Dia mengajakku nongkrong di café, dan makan burger di tempat langganannya. Less expectation, mengalir begitu saja bahkan sampai aku tidak sadar telah menghabiskan waktu tujuh jam bersama di pertemuan pertama kami itu. Pertemuan kedua juga sama panjangnya.

Oke. Sampai di sini, sudah terbaca kan kisah kelanjutannya seperti apa?

Juni, hari-hariku tentang B sudah sepenuhnya berkurang. 90% laki-laki itu tak pernah lagi muncul di kehidupanku. Hanya sekali dua kali kami pernah bertegur sapa. Sekedar main game online bareng, atau bertukar informasi mengenai vaksin. Sebaliknya, hubunganku dengan C semakin intens. Kami melakukan banyak kegiatan bersama. Dia ke Bogor, aku ke Bandung. Begitu terus selama ada kesempatan (berhubung ada aturan PPKM Level 4).

Juli tidak berbeda dengan Agustus. Ada kabar teman yang akan segera tunangan di akhir bulan, dan itu cukup mengejutkan mengingat temanku satu ini sangat-sangat minim menceritakan hubungannya dengan cowok manapun itu, tapi tahu-tahu mau tunangan dalam beberapa hari lagi. Aku juga jatuh sakit dan harus memastikan diri baik-baik saja dengan periksa ke dokter dan laboratorium –tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Di bulan ini juga aku sudah bersertifikat vaksin, jadi tidak sabar untuk merencanakan liburan.

Bulan depan, September, tepat tiga tahun aku bekerja di perusahaan ini –yang memang cuma ini tempatku bekerja sejak lulus kuliah. Masa-masa ini seperti mengulang masa di tahun lalu, saat aku bercermin mengenai carier path yang lagi-lagi menghantui. Ah, kalau dibahas di sini, mungkin ini akan menjadi posting-an yang sangat panjang. Akan kutulis di tulisan yang berbeda.

Oh iya, di bulan April, seseorang yang sempat menjadi penting untukku, menikah. Selamat, ya. Tulisanmu tetap akan selalu menginspirasiku dan orang-orang di luar sana.

Juni, seseorang lainnya juga menikah. Sempat aku masih belum tulus memaafkannya. Tapi kuharap sekarang semua itu sudah selesai.

Mulai sekarang, aku akan coba lagi menulis setiap bulannya. Semoga juga, lingkaran setan ke-tidak-produktifan-ku mengenai insecurity dan overthinking bisa berkurang. Aku sedang berusaha memperbaikinya.

 

 

Sukabumi, Agustus 2021.

Rabu, 27 Januari 2021

Ini Hari Rabu #1 Aku Ingin Mengeluh

Menjalani rutinitas ini membuatku mati dan hidup di waktu yang sama. Merasa mati karena, yah, pulang-pergi dari tempat tinggal ke kantor setiap hari Senin sampai Jumat benar-benar menjenuhkan. Merasa mati karena rasanya banyak yang luruh dari isi kepalaku perihal ilmu-ilmu yang pernah coba kugali saat kuliah, atau tentang skill-skill yang semakin lama semakin melemah karena tak pernah terlatih. Semua rutinitas ini membunuh kreativitasku... jika aku tak punya hari libur. 

Maha Baiknya Penciptaku, Ia memberikanku waktu di sore dan malam hari untuk membebaskanku dari beban pikiran soal pekerjaan di kantor, memberiku waktu luang yang panjang di hari Sabtu dan Mingguku. Jika waktu kerjaku selesai, aku bisa memulai "hidup"-ku. Aku akan mengisi penuh bahan bakar motorku, membawa diriku ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Aku akan mengumpulkan beberapa bahan sebagai ide untuk video, podcast, atau tulisanku selanjutnya. Aku akan membeli makanan kesukaanku, berbelanja barang-barang lucu, sekedar berjalan-jalan di sekeliling Kebun Raya Bogor, makan bubur ayam pagi-pagi, pulang ke Sukabumi untuk menyapa senyum keluargaku, bertemu teman-teman lama yang tak pernah tak jadi istimewa, atau sekedar bermain dan nonton bareng adik-adik.

Ada banyak hal yang ingin kukeluhkan. Entah itu tentang hari ini, kemarin, atau bahkan di masa lalu. Tapi pagi ini aku membaca postingan pendek yang menyentil ketika sarapan. Singkatnya, postingan instagram tersebut mengingatkanku tentang keluhan. Jika aku, sekarang, masih mengeluhkan hal yang sama, maka suatu saat nanti, ketika aku menjadi orangtua dan memiliki anak, anakku akan mengeluhkan hal yang sama. Dan tentu saja aku tak ingin seperti itu. Kata-kata terakhir postingan itu membuat mulutku berhenti mengunyah sesaat. Begini katanya, 

Bersiap-siaplah dengan baik menjadi orang yang layak disebut dalam doa anak-anakmu kelak, agar Allah memperlakukanmu... "Sebagaimana ia memperlakukanku di masa kecil"

Memang lebih mudah mengatakan pada diri sendiri bahwa aku akan menerima segala takdir Allah hari ini, dibanding melakukannya. Tapi aku ingin jadi siap, untuk menghadapinya. Apapun itu.

Senin, 18 Januari 2021

Paku pada Papan

Ada satu hal yang sangat mengubah hidup gue semasa SMA. Gue masih inget cerita ini bukan berarti gue masih belum move on dari kejadian itu, atau belum maafin orang-orang yang bersangkutan. Bukan. Kisah ini selalu gue ingat karena seringkali jadi bahan muhasabah diri. 

Jadi gini...
Gue dulu sekolah di salah satu sekolah favorit, di Sukabumi. Dulu belum ada sistem zonasi, jadi mereka yang masuk ke sekolah ini murni karena hasil ujian tulisnya masing-masing ---yang kemudian gue tau ternyata yang namanya "jalan dapur" mah ada-ada aja. 

Waktu kelas sepuluh, gue masuk di sebuah kelas dimana setengah dari mereka ini isinya anak-anak unggulan (tidak termasuk gue sepertinya). Otaknya encer semua. Sekalinya guru gak masuk dan ngasih tugas seabrek, langsung dikerjain bareng. Walhasil, tugas dikumpulin sesuai deadline. Ga ada tuh yang namanya guru ngambek ke kelas ini lantaran kenakalan atau kemalasan siswa-siswanya kaya ke kelas lain.

Di saat gue yang notabene gak pinter-pinter amat ini bergabung di sarang orang-orang jenius, gue merasa seneng sekaligus minder. Hahaha. Gue seneng sih gue kebawa produktif dan gak males-malesan dalam belajar, tapi kadang minder karena gue merasa kaya selalu jadi yang paling belakang dalam belajar. Cuma karena anak-anaknya baik, mereka terus ngajak gue biar gak mandang diri rendah, tetep belajar walau salah, dan yang paling penting nih, jujur pas ujian. 

Semester dua kelas sepuluh, kelas dipecah. Gue harus menghibur diri dengan berbagai cara karena termasuk dari setengah siswa di kelas yang tersingkirkan. Maksudnya gini, selama satu semester ini kita semua murid kelas sepuluh lagi dinilai, siapa aja yang pantas masuk ke kelas "unggulan" yang dulu tuh dinamain kelas SCI, alias Siswa Cerdas Istimewa. Karena gue tidak termasuk ke dalam 24 orang itu, gue harus keluar dari kelas dan mencari kelas lain yang masih punya slot murid. Gue berasa anak pindahan di sekolah sendiri pas pertama kali masuk kelas lain dan memperkenalkan diri sebagai anggota baru kelas tersebut.

Masuk kelas baru membuat gue agak kaget, ya. Gak kaget-kaget amat sih. Cuma ya sadar aja kalau ternyata lingkungan seberpengaruh itu. Soalnya, di kelas baru ini gue kembali seperti dulu ---dikasih tugas ngerjainnya mepet deadline, kalau jam kosong nonton film pake proyektor, karena kenakalan kita ada beberapa guru yang gamau ngajar sampe kita minta maaf, dll. Kenakalan-kenakalan wajar anak-anak SMA pada umumnya lah ya... 

Tapi bukan itu cuy yang merubah sisa kehidupan SMA gue jadi kelam. Menghabiskan kelas sepuluh di dua kelas ini, dua-duanya menyenangkan. Gue masih polos dan main sama siapapun di sana.

Tapi yang merubah gue itu kejadian di awal semester kelas sebelas. 

Gue masuk salah satu kelas jurusan IPA. Gue pada dasarnya emang gak jago belajar, apalagi Fisika. Jadi waktu itu ulangan harian Fisika di awal-awal kelas sebelas. Bahasannya tentang Gaya (N), gue inget banget. Mungkin emang anaknya males aja kali ya, jadi gue gak mempersiapkan dengan maksimal buat ulangan hari itu. Tapi karena gue yakin bahwa kejujuran itu nomor satu, sing penting pede, sebelum ngerjain baca doa dulu, dan udah sarapan... Gue mengerjakan ulangan itu dengan tulus, ikhlas, tidak terburu-buru, fokus, dan... Ya, bener-bener fokus. 

Seminggu berlalu, guru Fisika kembali dengan membawa setumpuk kertas hasil ulangan kita yang ternyata belum diapa-apain. Wkwkwk. Seperti biasa, kertas itu dibagiin di kelas, untuk "diperiksa bareng". Jadi bu guru bakalan nulis jawabannya di papan tulis, dan kita meriksain jawaban ulangan temen kita. 

MERIKSA itu cuma memastikan jawaban temen kita SAMA dengan yang bu guru tulis di papan tulis. Kalau cara ngerjainnya aja udah beda, apalagi jawabannya beda, ya berarti SALAH. Titik. 

Itu yang gue lakukan, sampai nggak berapa lama kemudian, saat bu guru lagi fokus nulis di papan tulis yang tulisannya bener-bener mepet dan minimize, seseorang nyolek gue dr belakang (gue selalu duduk di meja paling depan minggu-minggu itu) yang ternyata merupakan orang pemilik kertas jawaban yang gue periksa. 

"Tolong gantiin dong jawaban gue, Zah."

Lah? Gue terkekeh. "Gantiin gimana?"

"Hapus aja yang salahnya, ganti sama jawaban yang bener," Dia bilang begitu sambil masih rada bisik-bisik.

What the--

Di situ gue baru sadar, ternyata dari tadi cuma gue yang gak sesibuk orang-orang. Hampir satu kelas ribut bisik-bisik gara-gara hal itu. Dan entah kenapa bu guru seolah enggak mendengar suara apa-apa.

Setelah gue mudeng, udah mah didesak terus sama si pemilik kertas buat ganti jawaban dia, gue seketika kesel dong. "Ganti aja sendiri!" Kata gue, sambil balikin kertas jawaban dia. Bodo amat udah gue periksa semua atau belum. Gue gak percaya aja orang-orang bisa pada segitunya demi dapet nilai bagus. Di situ gue udah kecewa berat sama hampir sebagian besar siswa di kelas, termasuk temen sebangku gue sendiri. Gue cuma bisa nahan nangis, karena sedih banget. Waktu itu gue emang senaif itu (sampai sekarang sih kadang-kadang).

Belum selesai sampai di situ. Waktu bu guru beres nulis jawaban di papan tulis dan kembali duduk ke bangkunya, seketika kelas sunyi lagi. Gue udah berat banget nahan air mata, dan takut juga keliatan nangis sama guru karena gue duduk tepat di depan meja guru. Entah ga sadar sama keadaan kelas yang sebenernya atau "pura-pura" ga denger, bu guru ngabsen nama satu-satu buat dimasukin nilainya, sambil senyum seolah hari masih tampak indah untuknya. 

Karena kebetulan juga nama gue absen ke 29 dari 31 siswa di kelas, jadi pas nama gue disebut dan nilainya BEDA dari semua orang di kelas, bu guru nanya, "Zahra kenapa nilainya dibawah KKM sendiri?"

Pecah air mata gue, tapi masih gue sembunyiin. Cuma jadi pas ditanya gitu gue diem aja. Nyesel sih kenapa diem aja. Entah mungkin gue merasa minoritas aja, jadi merasa gak bakalan punya suara meski bicara.

Yang bikin lebih sakit, ada anak cowok di belakang yang tiba-tiba nyahut gini, "Gak belajar kali bu!"

Dan, yah... Emang gue gak semaksimal itu sih belajarnya. Jadi salah gue juga. Tapi nggak mesti lah lu ngomong gitu di saat lu menyaksikan gimana kerjaan anak-anak tadi. Lu seperti masang paku di papan kayu, yang setelah lo cabut pakunya pun, bekasnya gak akan pernah ilang cuy.

Yaudah. Gitu. Bu guru akhirnya keluar dari kelas setelah menyatakan bahwa gue satu-satunya yang harus remedial (tempat remedialnya bebas dimana katanya, dan gue memilih di mushola karena pasti saat itu mushola sepi, jadi gue bisa nangis kejer di sana sambil ngadu sama Allah atas ketidakadilan ini wkwk). 

Gue masih marah sama anak-anak setelah bu guru ninggalin kelas, terutama sama dia yang ngembaliin kertas jawaban gue dengan tulisan angka empat dilingkarin di sudut kiri bawah kertasnya.

"Maaf ya Zah. Punya lu ga bisa gue ganti soalnya pake pulpen." Gitu katanya. Yang kemudian gue rebut kertasnya, terus gue emek-emek sampe jadi bola, terus gue bales omongannya dengan bilang gini, "Ga ada yang nyuruh lo ganti jawaban gue!"

Ya udah. Disitu gue udah pecah tangis. Beberapa orang ngelus-ngelus pundak gue, yang seinget gue emang lumayan berteman baik sama gue. Ada sebagian yang bilang mereka merasa bersalah sama gue. Ada yang tetep nyalahin gue karena pake pulpen (saking fokusnya pas ngerjain sampai gue gak ngeh kalau orang lain ngerjainnya pake pensil). Ada kok beberapa dari mereka yang gue percaya tetep bisa lulus KKM meski gak curang karena emang aslinya pinter. Jadi ya guenya aja yang gak bisa ngerjain soalnya hahaha

Intinya, kejadian hari itu merubah pandangan gue ke orang, terutama anak-anak kelas. Gue jadi selalu pasang tameng kalau mau interaksi sama mereka ---takut tersakiti lagi. Kalau ada acara kelas, gue gak pernah mau ikut. Sampai acara liburan angkatan pun, gue gak mau ikut. Gue bener-bener menutup diri di sisa masa SMA dan cuma berteman sama itu-itu aja. Rasanya kalau ga ada ekskul, masa SMA gue mungkin bakal lebih monokrom lagi. 

Sekian cerita gue. Semoga bisa diambil pelajarannya. Dan... sampai jumpaaa~ 

Jumat, 08 Januari 2021

Ekspektasi

Ini tentang rasa yang membuatku selalu ingin pulang ke rumah orangtuaku setiap akhir pekan tiba. Ini tentang rasa yang membuatku belajar banyak hal, yang membuatku menyadari betapa ibuku sangat menyayangiku seburuk apapun diriku.

Aku pikir, kenapa aku butuh seseorang padahal ada cukup banyak hal yang bisa kulakukan sendiri. Tanpa perlu repot membuat janji, tanpa perlu repot dikomentari, tanpa perlu repot menyimpan harap tentang reaksi-reaksi yang nyatanya hanya terbentuk di benak ini saja. Jawabannya, tentu karena mungkin akan jauh lebih menyenangkan ketika aku bisa mendapatkan dukungan. Dan hingga detik aku menulis tulisan ini di tengah perjalanan menggunakan kereta, aku belum pernah menemukan "dia" yang bisa benar-benar mendukungku tentang apapun yang kulakukan. 

Aku ingin seseorang mendukungku meski banyak sekali usaha yang kulakukan demi membuat video berdurasi 3 menit. Aku juga ingin seseorang tak berkomentar "kamu gabut ya" atas pekerjaan-pekerjaanku yang lebih banyak memakan waktu, biaya dan tenaga, dibanding menghasilkan uang. Aku pikir akan ada orang di luar sana, yang membuatku semakin mahir berbahasa Jepang, mahir membuat sketsa-sketsa tanpa menghakimi, atau membuat tulisan-tulisan dalam buku tulisku terasa lebih berharga, atau membuatku mau membuat postingan-postingan bermanfaat di media sosialku yang semakin lama semakin berdebu.

Tapi ternyata lagi-lagi itu cuma ekspektasi. Ekspektasi tentang bagaimana keinginanku dalam sebuah hubungan, yang nyatanya tidak akan pernah ada yang benar-benar sesuai. Aku tetap harus berusaha sendiri ketika mengumpulkan footage, mengeditnya, dan merasa puas sendiri ketika hasilnya bagus. Karena ya hanya aku saja yang tau bagaimana rasanya mengerjakan itu. Atau ketika aku dihakimi tentang kebiasaanku menggambar, aku sendiri yang harus meguatkan diri untuk tetap merasa berharga dengan "bakat" ini. Atau menuliskan dan merekam apapun yang kupikir harus dituang, tak hanya terpendam di otak, yang kemudian kutulis dalam blog yang tak seorangpun membacanya, atau podcast yang tak seorangpun mendengarnya, kecuali ya aku sendiri. 

Jika temanku bilang mencari pasangan itu seperti mencari diriku versi laki-laki, aku sangat setuju. Karena itu persis seperti ekspektasiku. Tapi setelah aku tau tidak semudah itu menemukannya, jadi untuk saat ini mungkin aku akan membuat pertemuan kami terjadi secara natural, tak kan kupaksakan lagi. Aku ingin bentuk diriku yang mulai lembek lagi gara-gara patah hati. Aku ingin membahagiakan diri lagi dengan melakukan apapun sendiri, seperti sekarang aku pergi ke ibu kota dengan kereta, mengingat betapa aku menyukai jalan-jalan menggunakan alat transportasi ini. Tanpa harus mendengar kata "gabut amat lu".