Aku inginn bercerita tentang kisah yang dulu terasa perih untuk diingat, dan terdengar hebat oleh adikku yang mendengarkannya. Berkaitan dengan postinganku sebelumnya, kali ini aku akan menceritakan kisah ini, tanpa perasaan yang menggebu-gebu. Alasan aku menuliskannya juga agar aku ingat momen dimana aku dibentuk sedemikian rupa, sehingga aku bisa jadi manusia yang seperti sekarang ini.
Kisah ini terjadi di awal semester pertama kelas dua sekolah menengah atas. Waktu itu aku memang tidak suka belajar, terutama mata pelajaran yang besoknya akan diujiankan. Sepeeti kebanyakan siswa lainnya, aku belajar malam sebelumnya dengan metode SKS.
Besoknya, ketika ujian tiba, guru memberitahu bahwa kami hanya harus menuliskan jawaban pada selembar kertas HVS yang dibagikan. Tidak perlu menulis soal, hanya tulis jawaban dengan cara menjawabnya. Pikiranku saat itu benar-benar sesimpel itu : menjawab pertanyaan. Aku sama sekali tak berpikir harus menulis dengan pensil, jadi aku menulis jawabanku dengan pulpen.
Minggu depannya, kertas ujian yang dikerjakan tersebut dibagikan kembali pada siswa untuk diperiksa bersama-sama. Aku memegang kertas siswa lain, dan ada siswa lain yang memegang kertasku untuk dinilai. Waktu itu aku duduk di bangku paling depan, bersama seorang siswa perempuan yang kukenal cukup ambisius dalam belajar.
Ketika guru mulai menuliskan jawaban satu persatu di papan tulis, aku masih merasa semuanya baik-baik saja. Sampai pada suatu momen, siswa yang kertas jawabannya aku pegang, berusaha memanggilku dari bangku belakang. Aku menengok untuk menyahut, dan ternyata ia memintaku menggantikan jawaban miliknya supaya sesuai dengan jawaban yang guru tuliskan di papan tulis, jika memang jawabannya berbeda.
Waktu itu aku memahami hal tersebut sebagai sebuah kecurangan.
Protesku dibalas protes lagi oleh siswa tersebut. Katanya, semua orang juga melakukannya. Begitu aku meluaskan pandanganku, aku terkejut. Ternyata dia benar. Sebagian besar siswa dengan was-was dan tidak tenang saling berbisik dan memberi kode supaya jawaban mereka diganti oleh siswa yang memegang kertasnya.
Aku merasa ini sudah tidak beres. Meski bukan jawabanku yang diganti, aku tetap merasa tidak benar jika harus mengganti jawaban siswa yang kertasnya kupegang.
Setelah didesak terus-menerus oleh sang pemilik kertas jawaban, akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikannya saja, biar dia yang menggantinya sendiri. Aku tidak ingin tanganku ikut kotor, pikirku.
Dengan perasaan campur aduk, aku memperhatikan tingkah laku sebagian siswa di kelas tersebut. Rasanya ingin mara, ingin speak up, tapi aku sadar itu akan merugikan diriku sendiri di kemudian hari karena bisa jadi aku akan dianggap sebagai pengkhianat kelas. Jadi aku diam, dengan tatapan jijik aku memperhatikan mereka yang tanpa merasa berdosa mengganti jawaban mereka supaya setidaknya tidak diremedial.
Begitu jawaban selesai ditulis oleh guru, dan beliau kembali duduk di meja untuk memperhatikan kami, kontan seisi kelas kembali hening. Aku yakin siswa lain juga gugup tentang nilai akhirnya, sama seperti aku -yang bahkan tidak meminta untuk diganti jawabannya sama sekali. Aku bahkan tidak tahu dimana kertas jawabanku berada.
Begitu nama-nama siswa disebut guru sesuai absensi kelas untuk dimasukkan nilainya, kami jadi tau berapa nilai kami. Kebetulan waktu itu absensiku berada di urutan kedua dari bawah, jadi aku bisa mendengar nilai puluhan siswa lain di atasku di atas KKM semua.
Begitu namakku disebut, seorang siswa menyebutkan angkanya. Aku yakin bukan aku saja yang terkejut mendengarnya, meski aku tetap berusaha agar setidaknya tidak menangis di depan orang-orang.
Empat puluh tiga. Di saat yang lain berada di atas tujuh puluh tujuh, nilaiku merempet KKM saja tidak.
Untuk itu, begitu absensi selesai, guru menanyakan perihal tersebut padaku. "Kenapa kamu saja yang diremed, ya?" Tanyanya dengan wajah polos. Aku sendiri tidak tau apakah guru tersebut memang tidak mendengar kegaduhan yang dihasilkan para siswa saat ia memunggungi kami, atau dia hanya pura-pura?
Tapi semua pembelaanku hanya bisa aku telan sendiri. Tidak ada jawaban yang keluar sama sekali dari dalam mulutku, malah air mataku yang bocor. Aku juga yakin ekspresiku waktu itu seharusnya sudah menggambarkan perasaan yang tidak keruan.
Hal yang paling kuingat dan paling membuat marah adalah ketika mendengar seorang siswa laki-laki yang duduk di barisan yang sama denganku, tapi di bangku paling belakang, berkata dengan suara lantang yang tidak tahu malu.
"Nggak belajar kali, bu!"
Sejujurnya aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Terlalu shock. Kalau di scene sebuah film, adegan saat itu seperti mode slow motion yang tau-tau banyak siswa mengerubuni mejaku. Aku seolah tenggelam dalam pikiranku sendiri, sementara siswa-siswa yang mendekatiku memberikan simpati mereka. Beberapa meminta maaf karena telah membiarkanku remedial sendirian, sementara ia merasa dirinya seharusnya remedial juga kalau tidak berbuat curang. Samar-samar aku juga mendengar ada yang menanyakan kenapa aku tidak ikut seperti mereka (mengganti jawaban). Ada juga mereka golongan orang-orang yang memang mendapat nilai bagus dengan jujur, mencoba menyemangatiku yang kuterima dengan hati kosong. Lalu tentu saja, siswa yang menilai kertas jawabanku datang dan menjelaskan kepadaku mengapa ia tak bisa mengganti jawaban milikku yang memang sebagian besarnya salah: karena hanya aku di kelas ini yang menulis menggunakan pulpen.
Saat itulah kesadaranku kembali (meski masih dipenuhi oleh emosi). Aku merebut secara tiba-tiba kertas jawabanku, kemudian meremasnya saking kesalnya. Aku berkata dengan marah, "nggak ada yang nyuruh kamu benerin jawaban aku!"
Rupanya kemarahanku membuat tangisku pecah. Mejaku yang tadinya ramai, perlahan menyepi. Siswa yang duduk di sampingku tak bisa berbuat banyak melihatku menahan tangis karena sadar masih ada guru di kelas ini. Dia terus-menerus minta maaf, bahkan memberikanku lembar jawaban miliknya (yang nilainya dianggap lulus) supaya aku bisa mengerjakan soal remedialku dengan lebih cepat (ternyata soal remedialnya sama dengan sebelumnya).
Guru mempersilakan aku mengerjakan remedial di luar kelas, dimana pun yang nyaman untukku. Lalu aku memilih masjid. Lebih tepatnya, aku memilih masjid supaya aku bisa menangis puas di sana.
Demikian kisah perihku ini. Jujur, kisah ini membentuk diriku yang di kemudian hari sulit percaya pada orang lain, dan kemudian merasa diri ini tidak bernilai (insecure).
Untuk orang-orang yang berada di kisah ini...
Guruku...
Siswa sebangkuku...
Siswa yang menilai hasil ujianku...
Siswa yang berseru lantang dari bangku belakang...
Siswa-siswa yang berempati padaku...
Meski awalnya aku marah dan membuatku jadi orang yang begitu di sisa masa sekolahku, aku tetap berusaha untuk memaafkan kalian. Aku juga tidak tau jika kisah ini dilihat dari sudut pandang yang berbeda, apakah akan sama atau malah berbeda seratus delapan puluh derajat. Dulu aku sangat membenci sekolah setelah kejadian itu (kecuali pada bagian eskul yang cukup menyenangkan), dan sekarang aku malah menyesal karena rasanya tidak maksimal menikmati masa SMA.
Beberapa bagian membentuk diriku yang sekarang, beberapa bagian lainnya membuatku merasa harus menerima dunia yang memang tidak selalu berpihak padaku. Sementara aku harus tetap kuat dan tegar menjalani hidup yang lebih perih ke depannya. Seolah kisah ini hanya miniatur dari perih hidup yang sebenarnya.
Aku minta maaf jika beberapa orang yang kusebut tadi membaca cerita ini dan merasa tidak sesuai dengan yang dirasakan. Tapi semoga kalian semua sehat.