Jumat, 17 Juli 2020

Sempurna (Challenge Whatsapp)


Anggar menghentikan langkahnya begitu ia sadar telah menginjak tanah basah yang membuat sepatunya kotor. Sembari menahan diri untuk tidak mengeluh, ia mendongak, memastikan Thalia, yang sejak awal tak memberitahu sejujurnya kemana mereka akan pergi, masih berada di dekatnya. Meski sudah berjalan berkilo-kilometer menuju atas bukit yang entah apa maksudnya, gadis itu tetap saja terlihat enerjik, seolah tak kehilangan tenaga sedikitpun.

"Ayo, Gar. Dikit lagi. Tuh! Udah keliatan puncaknya!" Gadis itu melompat, girang melihat tujuannya sudah di depan mata.

Anggar hanya membalas dengan senyuman. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul tujuh lebih. Mungkin ia memang harus membatalkan janji dengan temannya demi memenuhi keinginan Thalia kali ini.

Dengan harapan ia bisa segera pulang jika keinginan Thalia sudah terpenuhi, Anggar mengumpulkan kembali tenaganya dan mulai melangkah naik malawan gravitasi.

Tak berapa lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat yang Thalia sebut puncak: sebuah padang rumput luas, dengan pemandangan langit malam yang indah. Seketika lelah yang Anggar rasakan barusan hilang begitu saja.

"Perfect," Thalia tersenyum puas di samping Anggar. Lengannya melilit perlahan pada lengan Anggar, membuat laki-laki itu menoleh dan melihat jutaan bintang lebih banyak di mata sang gadis.

Thalia menoleh, senyumnya seolah permanen. "Yuk," katanya, menarik tangan Anggar menuju tempat terbaik untuk melihat langit.

Setelah menemukan tempat duduk dengan view terbaik, Thalia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya: sebuah rice box. "Nih,"

Anggar menerima sambil tertegun. "Ini apa?"

Thalia terkekeh. "Kembang tujuh rupa," candanya, membuat senyum Anggar ikut terbentuk. "Nasilah, Gar. Laper kan?"

"Kamu jauh-jauh ke sini buat ngajakin aku makan rice box?" Tanya Anggar tak percaya.

Gadis itu lagi-lagi terkekeh, meski tangannya tak bergenti bergerak; menyiapkan peralatan makan untuk dirinya dan Anggar. "Yang kita bayar di sini itu view-nya, Gar. Kamu nggak merasa semuanya impas waktu liat langit seindah ini?"

Anggar menoleh pada langit sesaat, kemudian kembali menatap Thalia. "Makanya tadi kamu bilang perfect?"

Kali ini Thalia tak terkekeh. Ia hanya tersenyum. Memandang kedua sepatunya yang kotor. "Perfect itu kalau semuanya lengkap."

"Lengkap?"

Thalia mengangguk. "Ada langit cerah, ada makanan," Thalia berhenti sebentar, menoleh pada Anggar. "...dan ada kamu."

Anggar yang sedari tadi tak berhenti menatap Thalia, terpaksa mengalihkan pandangannya. Meski sejujurnya ia tak ingin melewatkan ini: momen dimana ia bisa melihat ekspresi Thalia yang seindah itu. Thalia benar, ini sempurna.

"Oops." Thalia bergeming memandang kotak nasinya sendiri.

"Kenapa?"

"Aku lupa bilang kalau aku nggak mau pake bombay,"

Kini giliran Anggar yang terkekeh. "Ya udah sini, oper ke aku,"

"Tukeran sama ayamnya mau nggak?"

"Thal,"

Thalia tak bisa menahan tawa, ia terlalu bahagia untuk memendam segalanya di dalam hati. Ini hari terbaik, baginya atau pun Anggar. Ya, ini sempurna.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar