Sudah tujuh bulan sejak terakhir kali aku menulis di blog ini. Dalam kurun waktu tersebut, banyak sekali hal yang terjadi. Saking banyaknya, aku bahkan tidak tahu harus menulis mulai dari mana.
Di bulan Februari, aku mendapatkan kamera digital pertamaku (Fujifilm
XT-10) yang aku dapatkan dari teman sekantor yang menjualnya dengan harga yang
sesuai budget yang aku miliki. Entah mengapa aku membeli merk yang
sebelumnya sama sekali belum pernah terpikirkan olehku. Tapi setelah
kupertimbangkan, tidak ada salahnya aku mengambilnya.
Di bulan Maret, pertama kalinya aku mencoba jalan-jalan ke
IKEA di Sentul City, plus AEON Mall karena kedua tempat tersebut memang
bersebelahan. Tempatnya cukup menyenangkan dan waktu itu cukup berkesan
sampai-sampai aku meng-upload salah satu momennya di Instagram. Atau sebetulnya, aku hanya orang yang cukup
sering mengunggah sesuatu di feed Instagram tanpa harus mempertimbangkan
seberapa berkesannya momen tersebut. Hehe.
Di bulan April, aku bertemu dengan seseorang dari dating
apps. Sebut saja dia A. Dia seseorang yang punya hobi photography dan
sudah memiliki akun Instagram khusus untuk mengunggah hasil fotonya.
Boleh dicek akunnya @jipongakbar karena dia di-follow oleh salah satu fotografer
terkenal, yaitu @okyarisandi. Cool, yeah?
Pertengahan bulan April, kita memasuki bulan Ramadhan, ingat?
Ramadhan tahun ini tidak begitu berbeda dengan tahun lalu
karena masih dalam masa pandemi. Bedanya, kalau tahun lalu kami banyak di rumah
karena WFH, sehingga mau tak mau sholat tarawih pun di kosan saja. Tahun ini,
kami bisa sholat berjama’ah di masjid, meski harus WFO setiap hari.
Perbedaannya lagi dengan tahun lalu, tahun ini Ramadhanku punya
teman baru. Sebut saja dia B, laki-laki lain lagi yang aku kenal lewat dating
apps. Seseorang yang rasa-rasanya punya banyak hal menarik untuk
didengarkan ceritanya. Kami juga punya hobi yang sama : main game. Meski
jelas dia jauh lebih gamer daripada aku yang hanya memainkan genshin
impact dan The Sims 4 saja.
Hal lain yang membuatku betah berlama-lama ngobrol dengannya
adalah karena si B ini merupakan seseorang yang pernah membuat film documenter
sebagai tugas akhirnya untuk lulus dari ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia). Ya,
dia anak perfilman. Bagiku yang punya mimpi salah satunya belajar di perfilman,
bertemu orang dari bidang tersebut tentu membuat mata berbinar-binar. Segala
sesuatu tentang dirinya jadi menarik untuk diketahui.
Mei setelah lebaran, aku ke Bandung lagi. Berniat bertemu B
secara real life untuk pertama kalinya. Mungkin selama satu bulan
berinteraksi lewat social media dengan B membuat ekspektasiku sedikit
lebih tinggi dari seharusnya –justru seharusnya aku tidak berekspektasi sama
sekali. Jadi, ketika segala sesuatunya tak berjalan sesuai dengan yang
diharapkan, aku kecewa.
Seperti denial, aku mencoba baik-baik saja. Padahal rasanya
sudah jelas bahwa aku baper. Haha.
Secara parallel, aku juga mengenal seseorang yang
lain. C, yang kukenal dari aplikasi yang sama, tapi sama sekali tampak tak menonjol.
Dia membalas chat dariku sesukanya. Mungkin seminggu sekali. Aku juga
sama. Tidak begitu mengindahkan pembicaraan kami yang terkadang sudah terlalu basi
untuk dilanjutkan. Tapi entah kenapa, malam itu seolah takdir membawa aku
bertemu dengannya.
Selama tiga hari di Bandung dengan niat bertemu B di hari
kedua, aku bertemu C untuk mengisi waktu luang. Dia mengajakku nongkrong di
café, dan makan burger di tempat langganannya. Less expectation, mengalir
begitu saja bahkan sampai aku tidak sadar telah menghabiskan waktu tujuh jam
bersama di pertemuan pertama kami itu. Pertemuan kedua juga sama panjangnya.
Oke. Sampai di sini, sudah terbaca kan kisah kelanjutannya
seperti apa?
Juni, hari-hariku tentang B sudah sepenuhnya berkurang. 90%
laki-laki itu tak pernah lagi muncul di kehidupanku. Hanya sekali dua kali kami
pernah bertegur sapa. Sekedar main game online bareng, atau bertukar
informasi mengenai vaksin. Sebaliknya, hubunganku dengan C semakin intens. Kami
melakukan banyak kegiatan bersama. Dia ke Bogor, aku ke Bandung. Begitu terus
selama ada kesempatan (berhubung ada aturan PPKM Level 4).
Juli tidak berbeda dengan Agustus. Ada kabar teman yang akan
segera tunangan di akhir bulan, dan itu cukup mengejutkan mengingat temanku
satu ini sangat-sangat minim menceritakan hubungannya dengan cowok manapun itu,
tapi tahu-tahu mau tunangan dalam beberapa hari lagi. Aku juga jatuh sakit dan
harus memastikan diri baik-baik saja dengan periksa ke dokter dan laboratorium –tapi
sekarang aku sudah baik-baik saja. Di bulan ini juga aku sudah bersertifikat
vaksin, jadi tidak sabar untuk merencanakan liburan.
Bulan depan, September, tepat tiga tahun aku bekerja di
perusahaan ini –yang memang cuma ini tempatku bekerja sejak lulus kuliah. Masa-masa
ini seperti mengulang masa di tahun lalu, saat aku bercermin mengenai carier
path yang lagi-lagi menghantui. Ah, kalau dibahas di sini, mungkin ini akan
menjadi posting-an yang sangat panjang. Akan kutulis di tulisan yang
berbeda.
Oh iya, di bulan April, seseorang yang sempat menjadi
penting untukku, menikah. Selamat, ya. Tulisanmu tetap akan selalu menginspirasiku
dan orang-orang di luar sana.
Juni, seseorang lainnya juga menikah. Sempat aku masih belum
tulus memaafkannya. Tapi kuharap sekarang semua itu sudah selesai.
Mulai sekarang, aku akan coba lagi menulis setiap bulannya.
Semoga juga, lingkaran setan ke-tidak-produktifan-ku mengenai insecurity dan
overthinking bisa berkurang. Aku sedang berusaha memperbaikinya.
Sukabumi, Agustus 2021.