Jumat, 27 Agustus 2021

Tujuh Bulan Terakhir Ini

Sudah tujuh bulan sejak terakhir kali aku menulis di blog ini. Dalam kurun waktu tersebut, banyak sekali hal yang terjadi. Saking banyaknya, aku bahkan tidak tahu harus menulis mulai dari mana.

Di bulan Februari, aku mendapatkan kamera digital pertamaku (Fujifilm XT-10) yang aku dapatkan dari teman sekantor yang menjualnya dengan harga yang sesuai budget yang aku miliki. Entah mengapa aku membeli merk yang sebelumnya sama sekali belum pernah terpikirkan olehku. Tapi setelah kupertimbangkan, tidak ada salahnya aku mengambilnya.

Di bulan Maret, pertama kalinya aku mencoba jalan-jalan ke IKEA di Sentul City, plus AEON Mall karena kedua tempat tersebut memang bersebelahan. Tempatnya cukup menyenangkan dan waktu itu cukup berkesan sampai-sampai aku meng-upload salah satu momennya di Instagram.  Atau sebetulnya, aku hanya orang yang cukup sering mengunggah sesuatu di feed Instagram tanpa harus mempertimbangkan seberapa berkesannya momen tersebut. Hehe.

Di bulan April, aku bertemu dengan seseorang dari dating apps. Sebut saja dia A. Dia seseorang yang punya hobi photography dan sudah memiliki akun Instagram khusus untuk mengunggah hasil fotonya. Boleh dicek akunnya @jipongakbar karena dia di-follow oleh salah satu fotografer terkenal, yaitu @okyarisandi. Cool, yeah?

Pertengahan bulan April, kita memasuki bulan Ramadhan, ingat?

Ramadhan tahun ini tidak begitu berbeda dengan tahun lalu karena masih dalam masa pandemi. Bedanya, kalau tahun lalu kami banyak di rumah karena WFH, sehingga mau tak mau sholat tarawih pun di kosan saja. Tahun ini, kami bisa sholat berjama’ah di masjid, meski harus WFO setiap hari.

Perbedaannya lagi dengan tahun lalu, tahun ini Ramadhanku punya teman baru. Sebut saja dia B, laki-laki lain lagi yang aku kenal lewat dating apps. Seseorang yang rasa-rasanya punya banyak hal menarik untuk didengarkan ceritanya. Kami juga punya hobi yang sama : main game. Meski jelas dia jauh lebih gamer daripada aku yang hanya memainkan genshin impact dan The Sims 4 saja.

Hal lain yang membuatku betah berlama-lama ngobrol dengannya adalah karena si B ini merupakan seseorang yang pernah membuat film documenter sebagai tugas akhirnya untuk lulus dari ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia). Ya, dia anak perfilman. Bagiku yang punya mimpi salah satunya belajar di perfilman, bertemu orang dari bidang tersebut tentu membuat mata berbinar-binar. Segala sesuatu tentang dirinya jadi menarik untuk diketahui.

Mei setelah lebaran, aku ke Bandung lagi. Berniat bertemu B secara real life untuk pertama kalinya. Mungkin selama satu bulan berinteraksi lewat social media dengan B membuat ekspektasiku sedikit lebih tinggi dari seharusnya –justru seharusnya aku tidak berekspektasi sama sekali. Jadi, ketika segala sesuatunya tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, aku kecewa.

Seperti denial, aku mencoba baik-baik saja. Padahal rasanya sudah jelas bahwa aku baper. Haha.

Secara parallel, aku juga mengenal seseorang yang lain. C, yang kukenal dari aplikasi yang sama, tapi sama sekali tampak tak menonjol. Dia membalas chat dariku sesukanya. Mungkin seminggu sekali. Aku juga sama. Tidak begitu mengindahkan pembicaraan kami yang terkadang sudah terlalu basi untuk dilanjutkan. Tapi entah kenapa, malam itu seolah takdir membawa aku bertemu dengannya.

Selama tiga hari di Bandung dengan niat bertemu B di hari kedua, aku bertemu C untuk mengisi waktu luang. Dia mengajakku nongkrong di café, dan makan burger di tempat langganannya. Less expectation, mengalir begitu saja bahkan sampai aku tidak sadar telah menghabiskan waktu tujuh jam bersama di pertemuan pertama kami itu. Pertemuan kedua juga sama panjangnya.

Oke. Sampai di sini, sudah terbaca kan kisah kelanjutannya seperti apa?

Juni, hari-hariku tentang B sudah sepenuhnya berkurang. 90% laki-laki itu tak pernah lagi muncul di kehidupanku. Hanya sekali dua kali kami pernah bertegur sapa. Sekedar main game online bareng, atau bertukar informasi mengenai vaksin. Sebaliknya, hubunganku dengan C semakin intens. Kami melakukan banyak kegiatan bersama. Dia ke Bogor, aku ke Bandung. Begitu terus selama ada kesempatan (berhubung ada aturan PPKM Level 4).

Juli tidak berbeda dengan Agustus. Ada kabar teman yang akan segera tunangan di akhir bulan, dan itu cukup mengejutkan mengingat temanku satu ini sangat-sangat minim menceritakan hubungannya dengan cowok manapun itu, tapi tahu-tahu mau tunangan dalam beberapa hari lagi. Aku juga jatuh sakit dan harus memastikan diri baik-baik saja dengan periksa ke dokter dan laboratorium –tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Di bulan ini juga aku sudah bersertifikat vaksin, jadi tidak sabar untuk merencanakan liburan.

Bulan depan, September, tepat tiga tahun aku bekerja di perusahaan ini –yang memang cuma ini tempatku bekerja sejak lulus kuliah. Masa-masa ini seperti mengulang masa di tahun lalu, saat aku bercermin mengenai carier path yang lagi-lagi menghantui. Ah, kalau dibahas di sini, mungkin ini akan menjadi posting-an yang sangat panjang. Akan kutulis di tulisan yang berbeda.

Oh iya, di bulan April, seseorang yang sempat menjadi penting untukku, menikah. Selamat, ya. Tulisanmu tetap akan selalu menginspirasiku dan orang-orang di luar sana.

Juni, seseorang lainnya juga menikah. Sempat aku masih belum tulus memaafkannya. Tapi kuharap sekarang semua itu sudah selesai.

Mulai sekarang, aku akan coba lagi menulis setiap bulannya. Semoga juga, lingkaran setan ke-tidak-produktifan-ku mengenai insecurity dan overthinking bisa berkurang. Aku sedang berusaha memperbaikinya.

 

 

Sukabumi, Agustus 2021.